ASN Pemko Pariaman Turun Gotong Royong Bersihkan Irigasi Anai II Pariaman Selatan

Kota Pariaman – Aroma lumpur basah dan suara cangkul beradu dengan batu menjadi saksi ketika jajaran aparatur pemerintah dan masyarakat bahu-membahu membersihkan Irigasi Anai II, di Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Sumatera Barat, pada Minggu (15/2/2026).

Di tengah terik matahari, barisan ASN terlihat menyatu dengan warga, mengangkat sedimen, mencabut rumput liar, dan menyingkirkan sampah yang selama ini membendung aliran air.

Pemandangan tersebut menghadirkan potret langka tentang birokrasi yang turun langsung ke medan perjuangan petani.

Bagi masyarakat di Kota Pariaman, saluran irigasi bukan sekadar jalur air, melainkan nadi kehidupan. Ketika aliran tersumbat, sawah terancam gagal tanam, dan dapur keluarga petani ikut dipertaruhkan.

Aksi gotong royong ini menjadi lebih dari sekadar kerja bakti, melainkan bentuk perlawanan terhadap ancaman krisis produksi pangan yang bisa muncul sewaktu-waktu.

Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, yang hadir langsung di lokasi menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah strategis sekaligus simbol sinergi antara pemerintah dan masyarakat.

Ia menyebut pembersihan saluran air menjadi langkah antisipasi penting agar pasokan air ke lahan pertanian tetap stabil, terutama menjelang musim tanam yang sangat menentukan nasib para petani.

Didampingi Sekretaris Daerah, Afrizal Azhar, kegiatan goro tidak hanya terpusat pada satu lokasi. Gerakan massal itu menyebar ke sejumlah desa seperti Batang Tajongkek, Sungai Kasai, Marabau, Padang Cakur, Palak Aneh, hingga Balai Kuraitaji.

Penyebaran titik kerja ini menunjukkan keseriusan pemerintah menjaga keberlanjutan sistem pengairan yang menjadi tulang punggung pertanian wilayah selatan Pariaman.

Di sela-sela aktivitas membersihkan lumpur yang menumpuk, interaksi hangat antara ASN dan warga terasa begitu cair. Tawa, canda, hingga saling menyemangati menciptakan suasana kebersamaan yang jarang terlihat dalam rutinitas pemerintahan sehari-hari.

Momen tersebut sekaligus memperkuat jembatan emosional antara aparatur negara dan masyarakat yang mereka layani.

Lebih jauh, Mulyadi menegaskan bahwa keberadaan irigasi yang bersih bukan hanya berdampak pada kelancaran aliran air ke sawah, tetapi juga menjadi benteng perlindungan bagi permukiman warga dari ancaman luapan air saat hujan deras mengguyur.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan sistem pengairan bisa memicu bencana baru yang merugikan masyarakat secara luas.

Pemerintah Kota Pariaman pun mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada aksi seremonial semata. Kesadaran kolektif menjaga kebersihan saluran air dinilai menjadi kunci keberlangsungan produktivitas pertanian di masa depan.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman bencana hidrometeorologi, gotong royong ini menjadi pesan kuat bahwa kekuatan daerah tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi dari solidaritas rakyat yang terus hidup di akar rumput.(mak).