Jakarta – Penelitian terbaru mengungkap bahwa ikan patin berisiko terkontaminasi logam berat, bahkan ketika dibudidayakan di kolam yang terkontrol. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Food Chemistry Advances pada September 2025.
Selain itu, penelitian lain menunjukkan ikan patin lebih rentan mengandung mikroplastik dibandingkan ikan lele. Hal ini tentu menimbulkan perhatian terkait keamanan pangan sehari-hari. Berikut penjelasan rinci mengenai kedua temuan tersebut.
Ikan patin budidaya berpotensi tercemar logam berat
Studi yang dilakukan oleh Mazedul Haque Sachchu dan rekan mengungkap bahwa pangasius atau ikan patin yang dibudidayakan di Bangladesh dapat mengandung logam berat beracun. Ikan patin merupakan salah satu pangan favorit di Bangladesh, sehingga penggunaan pakan buatan dan obat-obatan untuk meningkatkan produksi menjadi umum.
Para peneliti menekankan bahwa pemberian zat tambahan dalam dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan logam berat masuk ke rantai makanan ikan patin. Penelitian dilakukan di kolam budidaya di enam distrik, yakni Rajshahi, Chittagong, Noakhali, Jashore, Cumilla, dan Mymensingh, menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS).
Hasil pengukuran menunjukkan kandungan logam berat sebagai berikut:
Kromium (Cr) rata-rata 3,74 mg/kg di Jashore
Tembaga sekitar 45,22 mg/kg dan timbal 2,22 mg/kg di Cumilla
Arsenik 11,14 mg/kg di Jashore
Kadar tersebut menunjukkan adanya kontaminasi akibat aktivitas manusia, seperti pakan ikan yang tidak terkontrol, penggunaan obat budidaya, hingga pencemaran air dan sedimen. Dampaknya berpotensi membahayakan kesehatan manusia yang mengonsumsi ikan ini, meningkatkan risiko penyakit serius.
Mikroplastik lebih banyak pada ikan patin dibanding lele
Selain logam berat, ikan patin di muara sungai Bangladesh juga ditemukan mengandung mikroplastik. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Food Composition and Analysis pada Desember 2025 oleh Jahanara Akhter Lipi dan tim mengambil sampel ikan patin (Pangasius pangasius) dan ikan lele berkumis panjang (Mystus gulio) dari muara Sungai Meghna.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ikan patin mengandung sekitar 39 partikel mikroplastik, lebih tinggi dibandingkan ikan lele yang hanya sekitar 24 partikel. Sebagian besar mikroplastik berbentuk serat kecil berukuran di bawah 0,5 mm dengan warna ungu. Sumber kontaminasi meliputi tekstil sintetis, peralatan tangkap ikan, serta limpasan perkotaan.
Temuan ini menunjukkan bahwa ikan patin memiliki risiko ekologis dan kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan lele. Selain itu, penelitian ini memberikan gambaran penting terkait polusi mikroplastik di muara sungai tropis, yang merupakan ekosistem semi-tertutup dengan air payau.
Para peneliti menekankan bahwa hasil ini menjadi perhatian bagi konsumen dalam memilih ikan sebagai sumber pangan sehari-hari, terutama ikan patin yang populer dikonsumsi.(BY)






