Kota Pariaman – Tidak semua pejabat lahir dari jalan pintas kekuasaan. Sebagian tumbuh pelan, ditempa waktu, diuji oleh mutasi demi mutasi, hingga akhirnya berdiri di satu titik krusial. Menjaga nurani birokrasi. Afwandi adalah satu di antaranya.
Begitu lulus dari STPDN tahun 2002, Afwandi memulai pengabdian dari bawah. Ia mengenal lorong-lorong sunyi birokrasi, mulai di Pemerintah Daerah Kabupaten Padang Pariaman, hingga mutasi ke Pemerintah Kota Pariaman. Tahun demi tahun dijalani tanpa sorotan, tanpa hingar-bingar.
Namun, justru dari ruang-ruang itulah karakter Afwandi sebagai ASN ditempa. Disiplin, kesetiaan pada aturan, dan kesabaran menunggu waktu.
Kepercayaan mulai datang kepada Afwandi. Ia diangkat menjadi Camat Pariaman Utara, lalu Camat Pariaman Tengah. Dua wilayah, dua karakter masyarakat, dua tantangan kepemimpinan.
Dari sana, Afwandi ditarik ke Balai Kota, mengemban jabatan Kepala Bagian Pemerintahan. Roda karier terus berputar. Jadi Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD), Sekretaris Dinas Perhubungan, hingga akhirnya dipercaya sebagai Kepala Dinas Perhubungan.
Namun, puncak jabatan bukan selalu tentang prestise. Kadang, ia hadir sebagai ujian paling sunyi.
Kini, di bawah kepemimpinan Wali Kota Yota Balad dan Wakil Wali Kota Mulyadi yang hampir memasuki satu tahun pemerintahan, Afwandi mengemban amanah baru. Inspektur Pemerintah Kota Pariaman.
Sebuah posisi strategis. Bahkan sensitif, karena di sanalah integritas pemerintahan dipertaruhkan.
Mutasi dan penyegaran jabatan yang dilakukan bukan sekadar rotasi rutinitas. Ia dimaksudkan sebagai upaya menghadirkan energi baru, inovasi, dan lompatan kinerja dalam tubuh birokrasi.
Jabatan, sebagaimana ditegaskan pimpinan daerah, bukan hadiah, melainkan tanggung jawab yang kelak dipertanyakan. Bukan hanya oleh negara, tetapi oleh rakyat.
Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, menitipkan pesan tegas kepada Inspektur yang baru. Memasuki Tahun Anggaran 2026, persiapan menghadapi pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan BPKP atas laporan keuangan dan kegiatan Tahun 2025 harus menjadi prioritas utama.
Bukan semata soal administrasi, tetapi demi menjaga kepercayaan publik. Aset paling mahal dalam pemerintahan.
Afwandi memahami betul beban itu. Sebagai ayah dari tiga anak, kelahiran 22 Oktober 1979 ini, ia tahu bahwa jabatan Inspektur bukan panggung popularitas.
“Inspektur adalah mata kepala daerah,” ucapnya pelan usai pelantikan yang dihubungi awak media fajar harapan.id, Selasa (21/1/2026). Mata yang harus jernih melihat penyimpangan, tetapi juga bijak membina. Tegas menegakkan aturan, namun adil dalam pengawasan.
Ia menegaskan komitmennya untuk bekerja berlandaskan regulasi yang ada, mengawal tata kelola keuangan daerah agar tetap berada di rel yang benar. Tidak lebih, tidak kurang.
Di tengah sorotan publik terhadap transparansi dan akuntabilitas, Afwandi berdiri pada satu garis sunyi. Menjaga kepercayaan. Dari lorong birokrasi yang panjang, ia kini berada di garda terdepan pengawasan.
Bagi Afwandi, inilah bukan sekadar jabatan. Melainkan amanah terakhir yang harus dijaga dengan integritas.(ajo).






