Solok – Kementerian Pertanian (Kementan) resmi memulai rehabilitasi lahan pertanian masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi secara serentak di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Kamis (15/1/2026).
Di Sumatera Barat, program ini dimulai dari Kabupaten Solok melalui kegiatan groundbreaking perbaikan sawah terdampak bencana. Selanjutnya, rehabilitasi akan diperluas ke seluruh kabupaten dan kota yang mengalami kerusakan lahan pertanian.
Kegiatan di Solok dipimpin langsung oleh Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, Sam Herodian, bersama jajaran pemerintah daerah dan instansi terkait.
Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan kondisi lahan sawah dan jaringan irigasi di kawasan Sungai Batang Gawan, dilanjutkan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, serta penanaman benih padi di lahan yang telah dibersihkan.
Berdasarkan data Kementan, luas lahan terdampak bencana di Sumatera Barat mencapai sekitar 4.800 hektare dengan tingkat kerusakan bervariasi: 2.000 hektare ringan, 800 hektare sedang, dan 2.000 hektare berat.
Di Kabupaten Solok sendiri, lahan terdampak sekitar 1.400 hektare, terdiri dari kerusakan ringan 1.200 hektare, sedang 149 hektare, dan berat 876 hektare. Sam Herodian menjelaskan, Solok dipilih sebagai lokasi awal karena dampaknya paling luas di provinsi tersebut.
Rehabilitasi akan difokuskan pada lahan dengan kerusakan ringan dan sedang, sementara lahan rusak berat akan ditangani bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Selain perbaikan sawah, Kementan juga menyalurkan bantuan berupa alat dan mesin pertanian, pupuk, benih, serta sarana pendukung lainnya.
Secara teknis, rehabilitasi dimulai dengan pengangkatan endapan pasir setebal sekitar 50 sentimeter, kemudian perbaikan tanah diperkaya dengan pupuk agar kembali subur. Kementan juga bekerja sama dengan Kementerian PUPR untuk memperbaiki jaringan irigasi yang rusak akibat bencana.
Menteri Pertanian juga mendorong petani untuk terlibat langsung melalui skema padat karya, di mana mereka mengolah lahan miliknya sendiri dan menerima upah dari Kementerian.
Sekretaris Daerah Sumatera Barat, Arry Yusvandi, mengapresiasi langkah cepat Kementan dalam memulihkan sektor pertanian. “Kami berterima kasih atas inisiatif ini. Semoga petani dapat segera bangkit dan perekonomian masyarakat kembali pulih,” ujarnya. Arry menambahkan, total lahan terdampak di provinsi ini mencapai sekitar 6.800 hektare, mayoritas dengan kerusakan ringan. Semua data kerusakan telah tercatat dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Sumatera Barat.(des*)






