Lubuak Basuang – Tak semua pelantikan melahirkan harapan besar. Namun Jumat siang, 2 Januari 2026 di Masjid Nurul Falah, Lubuak Basuang, Agam, Sumatera Barat menjadi saksi satu penugasan yang mengandung risiko politik dan tekanan publik tinggi. Ekko Espito, S.STP, MA, salah seorang dari lima pejabat yang resmi dilantik oleh Wakil Bupati, Muhammad Iqbal, sebagai Sekretaris DPRD Kabupaten Agam. Jabatan yang kerap disebut kursi panas dalam tubuh pemerintahan daerah.
Sekwan bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah poros sunyi yang menentukan lancar atau macetnya denyut demokrasi lokal. Di kursi inilah kepentingan rakyat, ambisi politik, dan disiplin birokrasi saling berhadapan. Dan kini, tanggung jawab itu dipikul oleh putra Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara,Ekko Espito.
Lahir di Padang, 7 Agustus 1985, Ekko Espito bukan nama asing di lingkaran birokrasi Sumatera Barat. Ia datang dari keluarga aparatur negara. Ayahnya, Drs.Alti Sokla Espito, dikenal pernah bertugas lintas daerah. Yakni di Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang Panjang, hingga Kota Pariaman. Tradisi pengabdian itu kini diuji di level yang lebih keras.
Berlatar alumni STPDN 2009 dan Pascasarjana UGM 2011, Ekko Espito menapaki karier tanpa jalur pintas. Ia mengoleksi sedikitnya delapan jabatan strategis, mulai dari Kasubag Kerja Sama Antar & Lembaga Daerah di Sekretariat Daerah Kabupaten Solok Selatan hingga Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata pada Dinas Pariwisata di Daerah yang sama.
Ia merasakan pahit-manis birokrasi dari meja administrasi hingga tekanan lapangan yang begitu komplek untuk dituntaskan secara arif bijaksana.
Kabupaten Agam kemudian memanggilnya pulang. Ia dipercaya memimpin wilayah bermula sebagai Camat IV Koto, Plt Camat Banuhampu, dan Camat Ampek Angkek, sebelum berlabuh sebagai Kabag Tata Pemerintahan. Setiap posisi adalah tes mental. Setiap mutasi adalah saringan yang dijalani bagaikan air mengalir.
Namun, kini jabatan Sekwan adalah level berbeda. Di sini, kesalahan kecil bisa menjelma skandal besar. Keterlambatan administrasi bisa berubah menjadi konflik politik. Ketidaknetralan sekecil apa pun dapat mencederai marwah DPRD. Tentu, butuh kepiawai untuk menghadapinya dengan sikap ramah yang bermakna.
Ekko begitu panggilan akrab Ekko Espito yang merupakan anak ketiga dari lima bersaudara ini, memegang falsafah kerja yang kerap ia ulangi. “Jangan hanya fokus pada hasil akhir pendapatan, tapi pada proses memberikan yang terbaik dalam pengabdian. Hasil dan rezeki akan datang mengikuti.”
Kata-kata itu terdengar ideal. Publik Agam kini menunggu pembuktian, bukan kutipan motivasi. Sebab, Sekwan dituntut bukan hanya cerdas mengatur agenda dewan. Tetapi juga tegak di tengah tarik-menarik kepentingan, bersih di tengah godaan. Tegas menjaga batas antara birokrasi dan politik.
Kini, Ekko Espito berdiri di jantung kekuasaan legislatif Agam. Apakah ia mampu menjadi fasilitator yang adil, profesional, dan berani berkata tidak ketika aturan dilanggar?
Jawabannya tidak akan datang dari pidato pelantikan. Ia akan lahir dari keputusan-keputusan sunyi. Dari keberanian menjaga integritas saat tekanan datang bertubi-tubi.
Karier boleh panjang. Namun sebagai Sekwan DPRD Agam, ujian sesungguhnya baru saja dimulai.(mak).






