![]() |
| Oleh : H.Suhendrizal, MA |
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ (مسلم
“Apabila Ramadhan telah tiba, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pun akan dibelenggu.” (HR.Muslim)
Dalam redaksi lain pun, disebutkan bunyi hadits serupa soal keutamaan Ramadhan tersebut, dinyatakan ;
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ
“Telah datang bulan Ramadan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.” (HR.Ahmad).
Hadits diatas menjelaskan, tentang keberkahan bulan ramadhan untuk ummat Islam. Di bulan Ramadhan ini, seluruh pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaitan dibelenggu.
Lantas, apa maksud dari pernyataan pintu surga dibuka tersebut …?
Menurut Imam Al Nawawi dalam Syarah Muslim, makna keutamaan Ramadhan dalam hadits di atas, mengisyaratkan bahwa Allah SWT memberi beragam kesempatan beramal bagi para hambaNya.
Seperti, puasa Ramadhan hingga salat tarawih di malam harinya. “Allah SWT membuka berbagai macam ketaatan pada bulan Ramadhan bagi para hambaNya yang tidak dijumpai pada selain bulan Ramadhan,” bunyi keterangan Al Nawawi yang dinukil dari buku “Ramadhan Bersama Nabi” karya Rosidin.
Ibnu Taimiyah berpendapat, makna pintu surga yang dibuka berarti bahwa hati manusia yang terketuk mengerjakan amal shaleh selama bulan Ramadhan. Maksudnya, keinginan dan kecenderungan ummat Islam di bulan Ramdhan ini untuk beramal shaleh tersebutlah, yang menyebabkan pintu-pintu di surga terbuka.
Sebaliknya, pernyataan pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu dalam redaksi hadits tersebut juga memiliki makna tersendiri. Pada bulan Ramadhan, kecenderungan dan keinginan hati ummat Islam untuk menjauhi amal keburukan, membuat pintu neraka tertutup dan setan dibelenggu.
Meskipun setan dibelenggu atau dikandangkan di bulan Ramadhan, bukan berarti kemaksiatan akan hilang pada saat itu. Ibnu Taimiyah menjelaskan, akar amal buruk manusia sejatinya datang dari hawa nafsu manusia itu sendiri, bagi yang tidak mampu untuk mengendalikannya.
“Sesungguhnya mereka (setan) hanya mampu menguasai manusia lantaran adanya hawa nafsunya. Jika hawa nafsu manusia terkendali, setan pun terpenjara,” demikian penjelasan Ibnu Taimiyah yang dikutip dari buku “Halal-Haram Ruqyah” karya Musdar Bustamam Tambusai.
Disamping itu, kalimat “setan yang dibelenggu saat bulan Ramadan” juga dapat dimaknai sebagai ketidakmampuan setan dalam mengganggu manusia di bulan Ramdhan.
Terutama bagi manusia yang menyibukkan diri dengan beribadah dan beramal shaleh sepanjang bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan yang istimewa ini, telah menawarkan berbagai keberkahan dan maghfirah bagi umat muslim.
Oleh sebab itu, alangkah baiknya bila kita ummat muslim dapat memaksimalkan Ramadhan 2023 kali ini, dengan amalan yang lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Insya Allah.







