Festival Malingka Carano jo Arai Pinang di Pariaman Mengalir Cinta Kasih Sayang dan Marwah Minangkabau

Kota Pariaman – Di bawah langit biru Pantai Gandoriah, Kota Pariaman, Sumatera Barat yang teduh, tangan-tangan kecil itu bergetar lembut. Kanya Dwi Ramadhani, namanya. Ia siswi SDN 05 Tungkal Utara, Pariaman Utara dengan tatapan penuh takzim, melingkakan carano berisi siriah jo gambir di hadapan juri dan para tamu.

Geraknya perlahan, namun sarat makna. Di setiap putaran carano itu, seolah mengalir cinta, hormat, dan marwah budaya Minangkabau yang tak lekang dek waktu.

Festival “Malingka Carano jo Arai Pinang” tingkat SD/MI se-Sumatera Barat bukan sekadar lomba. Ia adalah upaya menggugah kembali nurani anak nagari agar tak tercerabut dari akar budayanya.

Dari tangan ke tangan, dari hati ke hati, carano yang dilingkakan membawa pesan luhur. Hidup ini indah bila dijalani dengan sopan santun, kasih sayang, dan rasa hormat antar sesama.

Wali Kota Pariaman, Yota Balad, dengan mata berbinar menatap anak-anak yang tampil penuh percaya diri. “Tradisi malingka carano bukan hanya adat, tapi filosofi hidup urang Minang. Di dalamnya ada kesantunan, ada kerapian, ada penghormatan. Inilah wajah asli kita. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” ucapnya bergetar, menahan rasa haru.

Malingka carano bukan tentang wadah berisi siriah jo gambir. Ia adalah simbol kasih dan silaturahmi. Di zaman modern ketika banyak nilai-nai mulai memudar. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa raso jo pareso, sopan santun, dan kebersamaan adalah napas kehidupan urang awak.

Ketika Kanya diumumkan sebagai juara pertama dengan nilai 136, sorak tepuk tangan memecah senja. Namun lebih dari sekadar kemenangan, yang menang hari itu adalah budaya Minangkabau. Tetap hidup, berdenyut di dada anak-anak kecil yang berani menjaga pusaka leluhur.

Sebab, jika carano tak lagi dilingkakan, hilanglah satu lambang kasih urang awak. Dan jika adat tak lagi dijaga, pudar pula marwah nagari.

Dari Pantai Gandoriah sore itu, semilir angin membawa pesan dari generasi muda untuk ranah Minang.

“Kami masih melingka carano, karena kami masih mencintai adat dan marwah kami”, begitu terucap oleh siswa sebagai generasi pelanjut budaya kelak yang ndak lakang dek paneh ndak lapuak dek hujan.(mak).