Blog  

Menikmati Keindahan “Kepingan Surga” di Pulau Samosir

SAMOSIR – Ketua DPD Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Aceh Singkil, Yudi Sagala, mengungkapkan kekagumannya terhadap pesona wisata yang dimiliki Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Dalam perjalanan libur panjang Idulfitri 1446 H/2025 M bersama keluarganya, Yudi menyebut Samosir sebagai “negeri indah bak kepingan surga” yang menyuguhkan panorama keindahan, kenyamanan, dan ketenangan dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

“Wilayah ini benar-benar memikat. Dikelilingi tujuh kabupaten lain, Samosir berdiri teguh di tengah Danau Toba dengan daya tarik yang luar biasa,” ungkap Yudi.

Perjalanan wisata dimulai dari kawasan Tele. Menurut Yudi, sesampainya di Simpang Tiga dan menuruni jalan, panorama menakjubkan langsung menyambut di Menara Pandang Tele.

“Dari atas Tele, kita bisa menyaksikan pemandangan Gunung Pusuk Buhit, Pulau Samosir, Si Bea-bea, Air Terjun Efrata, dan megahnya Danau Toba dalam satu bingkai alam yang luar biasa indah,” katanya.

Tak berhenti di situ, Yudi dan keluarga melanjutkan perjalanan ke Aek Si Pitu Dai – air tujuh rasa yang konon memiliki sensasi rasa berbeda dari tiap pancurannya. Ia mengaku terkesan dengan pengalaman tersebut.

“Kita bahkan diperbolehkan mencicipi airnya langsung, dan memang terasa beda dan sangat natural. Pengunjung juga disarankan untuk mandi agar bisa merasakan kesegaran alami air tujuh rasa,” kisahnya.

Petualangan budaya juga menjadi bagian penting dari kunjungan kali ini. Yudi menyempatkan diri ke Sopo Guru Tatea Bulan – situs sejarah yang sangat dihormati dalam budaya Batak.

“Tempat ini begitu kental dengan nilai spiritual dan kearifan lokal. Dikenal sebagai tokoh legendaris dalam mitologi Batak, Guru Tatea Bulan adalah simbol pemimpin spiritual yang mewariskan ilmu dan budaya kepada generasi selanjutnya,” jelasnya.

Bangunan Sopo Guru Tatea Bulan menampilkan arsitektur khas Batak, penuh ukiran yang menggambarkan mitos dan legenda leluhur. “Setiap ukiran punya makna. Sungguh warisan budaya yang patut dijaga,” ujar Yudi.

Ketika malam tiba, Yudi pun menikmati Waterpront City Pangururan yang menyuguhkan atraksi air mancur menari. “Sangat memukau. Disuguhkan di akhir pekan dan hari libur nasional, atraksi ini menghadirkan pertunjukan cahaya dan air yang mempesona,” katanya.

Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau – Rp 5.000 untuk warga lokal dan Rp 10.000 bagi wisatawan luar – kawasan ini menyediakan fasilitas lengkap mulai dari food court, area duduk, hingga spot foto yang instagramable.

Tak hanya wisata alam dan budaya, Yudi juga mencatat geliat ekonomi masyarakat sekitar yang meningkat selama musim liburan.

“Pedagang laris manis. Warung makan penuh sesak, bahkan nasi habis sebelum malam. Penginapan pun sudah dipesan jauh hari. Seorang warga bernama Dapid mengatakan, satu bulan sebelum libur pun homestay sudah full-booking,” ungkapnya.

Yudi menyimpulkan, potensi wisata Samosir sangat besar, tidak hanya sebagai destinasi rekreasi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi masyarakat. “Samosir benar-benar pantas disebut kepingan surga,” tutupnya.| K4/tim Cakrawala.