Korea Utara Uji Coba Rudal Balistik dengan Teknologi Baru

Korea Utara
Kim Jong Un meninjau armada pembawa rudal taktis Korut di sebuah fasilitas yang dirahasiakan lokasinya.

Jakarta – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, telah memerintahkan peningkatan produksi senjata guna memperkuat kekuatan nuklir negaranya dengan segera. Pernyataan ini disampaikannya saat melakukan inspeksi di sebuah pabrik senjata pada Jumat (17/5/2024).

“Demi menghadapi konfrontasi militer musuh yang gegabah dan meningkatkan upaya pencegahan perang nuklir,” ujar Kim, seperti yang dilaporkan oleh KCNA, Sabtu (18/5/2024).

Kim menegaskan bahwa dengan meningkatkan produksi senjata, musuh akan merasa gentar melihat kekuatan tempur nuklir Korea Utara.

Pada hari yang sama, Kim secara langsung mengawasi uji coba rudal balistik taktis yang telah menggunakan teknologi pemandu terbaru. Militer Korea Utara menembakkan sejumlah rudal balistik jarak pendek ke laut lepas di pantai timur.

Setelah peluncuran tersebut, Kim menyatakan kepuasannya atas keberhasilan uji coba rudal tersebut, terutama karena senjata tersebut telah menggunakan sistem navigasi otonom.

Uji coba rudal ini dilakukan setelah Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, membantah adanya kerja sama pertukaran senjata antara Korea Utara dan Rusia. Komentarnya datang setelah Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi terhadap Rusia terkait penjualan senjata kepada Korea Utara.

Menurut Kim Yo Jong, teori tentang kesepakatan pertukaran senjata antara negaranya dan Rusia hanyalah spekulasi yang tidak berdasar dan merupakan cerita fiksi.

“Teori ini tidak masuk akal dan tidak pantas untuk dievaluasi atau ditafsirkan oleh siapa pun,” kata Kim Yo Jong.

Dia menegaskan bahwa kerja sama senjata antara Korea Utara dan Rusia hanya merupakan rumor yang disebarkan oleh kekuatan musuh.

Kim Yo Jong menambahkan bahwa pengembangan senjata Korea Utara bukanlah untuk tujuan ekspor, melainkan untuk kepentingan pertahanan melawan Korea Selatan.

AS dan Korea Selatan menuduh Korea Utara mengekspor rudalnya ke Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina, berdasarkan laporan dari tim PBB. Namun, Rusia dan Korea Utara membantah tuduhan tersebut.(des)