Jama’ah Dibuat Kagum ..! Masjid Raya Al Jabar “Icon Religi” Jawa Barat – Masjid Terapuang Kota Pariaman Tersendat, Catatan Kecil Studi Komparatif : Oleh Suardi Aminsyah

Dulu ..! Ada ungkapan sebagian orang yang melancong ke Kota Bandung, belum lengkap rasanya, jikalau tidak singgah di Alun-Alun. Titik lokasi ini berdekatan dengan Masjid Raya Kota Bandung.

Ataupun belum fresh lagi, andaikata tak manyilau Jalan Asia Afrika. Karena, ada Gedung Merdeka sebagai saksi sejarah di sana. Di gedung ini tempat Konprensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT AA) yang diprakarsai Indonesia, Burma (Myanmar- kini), Ceylon (Sri Lanka- kini), India dan Pakistan. Diikuti sekitar 29 Negara dari Benua Asia dan Afrika, pada tanggal 18 – 24 April 1955.

Gedung Merdeka Bandung ini telah dirubah menjadi Museum Asia Afrika. Lagi, banyak Wisatawan berdatangan ke sini. Ada yang berlalu lalang saja di pelataran Jalan Asia Afrika ini. Juga, mereka ada yang hanya sekedar berkodak ataupun berselfi.

Bahkan, tempat duduk-duduk dari baja pun tersedia. Cukup banyak di sepanjang jalan Asia Afrika itu untuk bercengkrama bareng.

Kemudian, ada Objek Wisata Alam “Kawah” Gunung Tangkuban Parahu, di Bandung Barat. Ada lagi “Kawah Putih” Ciwidey merupakan wisata alam kawah vulkanik berwarna putih kehijauan dengan batu kapur di sekelilingnya berlokasi di Ciwedey, juga berada di Bandung Barat.

Kedua lokasi Wisata Alam tersebut, memang menakjubkan dan mempesona. Tidak lengkap rasanya ke Bandung, kalau tidak singgah ke Objek Wisata Alam sana.

Kini ..! sejak dua tahun terakhir telah hadir “Icon Religi Masjid Raya Al Jabar” di Kota Bandung ini. Keberadaan rumah ibadah Masjid Al-Jabar, membuat para jama’ah yang berkunjung akan berdecak kagum. Lagi, jama’ah merasa betah berlama-lama untuk beribadah di sini …!

Setidaknya, belum ke Kota Bandung namanya, kalau tidak mampir mengunjungi Masjid Raya Al Jabar. Kenapa ..? Sebab, Masjid Al Jabar, memang tampil beda Arsitektur. Apalagi penampakannya, sangat mempesona.

Tak pelak lagi, Masjid Raya Al-Jabar telah menjadi “Icon Wisata Religi Jawa Barat plus Kota Bandung”. Masjid dikelilingi “kolam” ini, berada di dalam wilayah Kota Bandung. Namun demikian, dalam penanganannya dikelola langsung dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sepekan jelang bulan suci Ramadhan, kita ikut dalam rombongan Studi Komparatif Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Pariaman bersama PWI Padang Pariaman/Pariaman dipimpin Sekretaris Dinas Kominfo Kota Pariaman Riky Falantino ke Kota Bandung, Jawa Barat.

Usai mengikuti kegiatan secara formal, kita beberapa teman berkunjung ke Masjid Raya Al Jabar yang berjarak sekitar 8 km dari Pusat Kota Bandung. Persis berada di Cimenerang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung,

Masjid Raya Al Jabbar mulai di desain tahun 2015 oleh Ridwan Kamil sendiri, sebagai Masjid Raya tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bangunan utama dirancang dengan luas lantai 99 x 99 m2 sesuai angka Asmaul Husna.

Meskipun lokasinya di Kota Bandung, Masjid Raya Al-Jabbar adalah milik seluruh masyarakat Jawa Barat. Dan, diresmikan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Jumat, 30 Desember 2022.

Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar berbeda dari arsitektur Masjid yang biasa ditemukan sehari-hari. Bahkan, dari kejauhan sekitar dua kilometer, telah terlihat kubah besar.

Bentuknya seperti setengah bola raksasa yang berukuran 99 x 99 meter dengan tinggi 40 meter. Sedangkan Mercu Suar menampilkan senjata khas Jawa Barat jenis “Kujang”. Ujung dari Kujang itu menjulang ke langit, sedangkan pondasinya berada tertancam di Kolam.

Al-Jabbar dibangun di atas lahan sekitar 25 Ha. Bisa menampung jama’ah secara keseluruhan sekitar 30 ribu orang. Pada lantai bawah, bisa menampung sekitar 20 ribu orang. Sedangkan lantai atas akan diperuntukan jama’ah perempuan dengan daya tampung sekitar tiga ribu orang.

Lanjut, terlihat dalam Masjid Al Jabar, tidak punya Tunggak Tuo alias Macu bahaso Piaman. Hanya ada Tunggak Meruncing yang punya ukiran sangat indah sekali. Juga pada sisi bawah, tempat Al-Quran yang tersusun rancak untuk dibaca oleh para jama’ah. Dari Tunggak bersegi empat ini, ada keluar hawa pendingin AC.

Tunggak berdiri dengan ukiran sangat indah pada setiap masing-masing sisi ada 4 buah Tunggak. Yakni pada sisi kanan, kiri, belakang dan sisi depan, juga ada sebuah Tunggak yang berada dekat Mihrab.

Dari pengamatan hitungan kita, kesemuanya Tunggak itu berjumlah 16 buah, dan 1 buah berada dekat sisi Mihrab. Agaknya, menurut hemat Wak pribadi, ini mungkin pertanda shalat wajib sehari semalam lima waktu tersebut mempunyai  17 raka’at. Ataupun penilaian kita tidak salah menafsirkannya. Jikalau meleset, mohon maaf ya.

Selanjutnya, kata petugas di sana, Masjid Al Jabar terdapat 27 Pintu. Ini menyimbolkan 27 Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Sekaligus dengan simbol desain batik dari Kota dan Kabupaten masing-masing.

Dalam Masjid Al Jabar, memang menakjubkan dipenuhi relief ukiran kaligrafi islami yang dipandu batik dengan warna syahdu. Karpet untuk shalatpun “lambuak sangaik”. Ruangan dilengkapi AC yang cukup kuat pendinginannya. Ya begitulah.Tentu, akan menambah ke khusyu’ an jama’ah dalam beribadah.

“Sedangkan Area alun-alun pun dapat dipergunakan tempat salat. Karena, sudah dipasang garis saf shalat. Ini bisa menampung jama’ah hingga 25 ribu” ucap Petugas yang berpakaian seragam berlogo Provinsi Jawa Barat.

Yang menarik, tempat buang air kecil dan besar, berjarak sekitar 10 meter dengan tempat berwudhu’. Bahkan, kita dipandu serta diarahkan petugas ke Toilet maupun ke tempat berwudhu’. Sekitar dua orang petugas, selalu standby terlihat. Mereka berjaga membersihkan Toilet begitu jama’ah keluar dari WC. Tak obah nya sarupo pelayanan clearning service Toilet di Bandara.

Artinya, kesucian wudhu’ kita jama’ah tetap terjaga. Dengan alasan bersih belum tentu suci. Tapi kalau suci, tentu jelas bersih. Ini memang betul-betul telah menjadi perhatian khusus dari pihak pengelola Masjid Al Jabar.

Disamping itu, ada terlihat etalase terpajang dekat pintu keluar. Dalam etalase tersebut, terdapat sejumlah benda atau barang beragam jenis. Rupanya, barang-barang itu kepunyaan jama’ah yang tertinggal. Seperti Dompet, Tas, Handphone dsb.

Kesemuanya benda-benda sudah dibungkus pakai plastik putih bening, dilengkapi tulisan hari serta tanggal ditemukan dalam Masjid Al Jabar ini.

“Mana tahu para jama’ah yang bersangkutan berkunjung kembali ke sini. Di silahkan ambil dengan catatan punya bukti. Tentu, harus dilengkapi kartu tanda penduduk (KTP). Kita akan serahkan secara baik-baik” jawab petugas yang menjaga Etalase itu kepada penulis, setelah mengajukan pertanyaan.

Agaknya, itu merupakan barang-barang kecil milik jama’ah yang tercecer ditemukan jama’ah lain ataupun Petugas sendiri. Sehingga petugas yang cukup ramah ini, menyelamatkan barang-barang itu dengan menaruh/memajangkan di etalase kaca tersebut.

Sebelumnya, kita mau masuk masuk areal Masjid saja, terlebih dahulu lapor sama petugas parkir kendaraan mobil ataupun sepeda motor. Jadi, tak bisa lah langsung mendekati ke bangunan Masjid sarupo di kampuang Wak.

Lama parkiran kenderaan di hitung per-jam. Seperti mau masuk kawasan BIM Katapiang sana. Tempat parkir telah tersedia yang berjarak sekitar 100 meter dari bangunan Masjid.

Untuk sampai di depan pekarangan utama Masjid, harus berjalan kaki atau naik “bus odong-odong” berbayar yang standby berjejer menunggu.

Ketika kita mau masuk, hanya satu tempat jalan. Mungkin demi menjaga keselamatan jama’ah. Supaya terhindar, jangan kecebur masuk “tobek godang” ntun.

Yakni jalan masuk ke pekarangan menuju tangga tersebut terbagi dua pula. Jalur masuk dan keluar. Jadi, mau masuk menyolonong begitu saja ke dalam Masjid, tidak bisalah. Sebab, akan dicegat patugaih. Sekeliling bangunan utama pada tiga sisi, terdapat kolam yang cukup dalam genangan airnya.

Dan, kesemua sisi bangunan baik di dalam maupun di luar Masjid terpasang CCTV sangat banyak. Petugas berseragam pun begitu banyak pula yang mondar mandir.

Bahkan, kita juga di arahkan petugas informasi. Dimana batas suci, tempat simpanan sepatu atau sandal, dan dimana tempat Toilet serta Berwudhu’.

Keunikan yang lain dari Masjid Al Jabar, Bandung ini bangunannya, seolah-olah berada di dalam Danau. Arsitektur bangunan tampil beda. Ornamen ukiran kaligrafi islami dengan budaya batik daerah. Menambah keindahan dalam Masjid sangat berkelas. Indah dan mengagumkan. Yo ghancak.

Bagaimana kita di Kota Pariaman. Rencananya mau bangun Masjid Terapung. Bahkan, tiang-tiang Tunggak telah tertancap di tepi Pantai Pauh itu. Namun demikian, apakah tak salahnya kita belajar kesana cara membangun dan pengelolaannya nanti.

Ataupun, kalau bisa Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman lakukan konsultasi dan diskusi dengan mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tersebut. Kapan perlu, diminta benar dia sebagai perancang Arsitektur Masjid Raya Terapung Kota Pariaman.

Kita rasa belum terlambat, juga lakukan revisi kembali “gambar” yang sudah dibuat tersebut. Itukan bisa saja dilakukan. Jangan kita bajua maha pula untuk baghaja demi berkemajuan.

Jangan-jangan membangun rumah ibadah ini, muncul lo kucikak nanti ; ughang buek Musajik Tarapuang, kito buek Musajik Tarapuang lo, akhi e taapuang-apuang jadi nyo.

Namun demikian, kita berdo’a kepada Allaah, semoga Kota Pariaman punya Masjid Raya Terapung bernuansa Islami disertai ciri khas Piaman. Sehingga menjadi “icon religi” terbaru pula di Kota Tabuik ini. Semoga terwujud ..!