Padang – Pemerintah Kota Padang terus memperkuat koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V untuk mempercepat penanganan banjir yang berulang kali melanda sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat.
Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan antara Wali Kota Padang, Fadly Amran, dan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BWS Sumatera V Padang, Reski Wahyudi, di Gedung Putih Rumah Dinas Wali Kota Padang, Minggu (11/10/2026).
Pertemuan itu turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Tommy TRD, serta Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Malvi Hendri.
Salah satu agenda utama pertemuan adalah membahas percepatan perbaikan infrastruktur sungai yang mengalami kerusakan akibat badai dan bencana hidrometeorologi pada November 2025. Kerusakan tersebut dinilai perlu segera ditangani agar risiko banjir yang mengancam masyarakat dapat diminimalkan.
Wali Kota Fadly Amran meminta agar berbagai langkah mitigasi segera direalisasikan. Beberapa upaya yang menjadi perhatian meliputi penataan aliran sungai, pembangunan bangunan pengendali arus seperti check dam dan sabo dam, serta pengerukan sedimentasi yang menghambat kapasitas sungai.
Fadly juga menekankan pentingnya pengerukan lumpur dan material endapan secara berkelanjutan. Menurutnya, banjir yang terjadi berulang kali membuat sedimentasi kembali menumpuk sehingga membutuhkan penanganan menyeluruh.
“Kami mendorong BWS Sumatera V untuk mempercepat pengerukan sedimentasi sungai secara masif. Karena bencana terus berulang, material endapan kembali menumpuk dan perlu ditangani secara komprehensif. Jika memungkinkan, penanganan ini juga dapat melibatkan pihak swasta,” ujar Fadly.
Selain perbaikan fisik, pemerintah kota menyatakan kesiapan untuk mendukung penyediaan lahan yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek pengendalian banjir. Dukungan tersebut mencakup koordinasi terkait pembebasan lahan dan penentuan kawasan yang perlu direlokasi.
Fadly mengatakan, pemerintah daerah membutuhkan arahan dari BWS Sumatera V mengenai lokasi yang harus ditata maupun direlokasi agar proses pembangunan tidak mengalami hambatan.
“Kami membutuhkan dukungan BWS dalam mengidentifikasi kawasan yang perlu direlokasi untuk mendukung pembangunan. Pemerintah kota siap membantu proses pembebasan lahan agar pelaksanaan pekerjaan bisa berjalan lebih cepat dan masyarakat tidak perlu menunggu terlalu lama,” katanya.
Sementara itu, Plt Kepala BWS Sumatera V Padang, Reski Wahyudi, menjelaskan bahwa penanganan pascabencana banjir besar pada 28 November 2025 masih berada dalam tahapan tanggap darurat secara teknis.
Meski demikian, pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur sungai dalam skala besar direncanakan mulai dilaksanakan pada November 2026.
Sejumlah lokasi yang menjadi prioritas penanganan antara lain Sungai Batang Kuranji, Sungai Air Dingin, serta beberapa aliran anak sungai yang terhubung dengan jaringan sungai utama di Kota Padang.
Reski menjelaskan bahwa besarnya dampak bencana hidrometeorologi dalam setahun terakhir membuat proses perencanaan harus dilakukan secara cermat. Studi teknis yang menyeluruh diperlukan untuk menentukan langkah pengendalian banjir yang tepat dan efektif.
Menurutnya, skala bencana yang terjadi kali ini jauh lebih besar dibandingkan peristiwa serupa pada 2011–2012. Oleh sebab itu, penanganannya membutuhkan persiapan matang, mulai dari penyusunan desain teknis, pembebasan lahan, hingga pengalokasian anggaran.
“Bencana yang kita alami kali ini berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan bencana pada 2011–2012. Karena itu, pengendalian banjir membutuhkan kajian yang matang dan perencanaan komprehensif, termasuk desain teknis, pembebasan lahan, serta penganggaran,” jelas Reski.
Di sisi lain, BWS Sumatera V memastikan sejumlah pekerjaan penanganan darurat telah dilakukan untuk mengurangi risiko banjir susulan. Upaya tersebut meliputi perbaikan tanggul yang mengalami limpasan air dan normalisasi alur sungai di sejumlah titik terdampak.
Reski menyebutkan, hasil penanganan awal mulai terlihat ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada 3 Agustus 2026. Berdasarkan data yang diterima pihaknya, curah hujan saat itu lebih tinggi dibandingkan ketika banjir besar terjadi pada 28 November 2025, tetapi dampak yang ditimbulkan relatif lebih rendah.
Kondisi tersebut, menurut Reski, menjadi indikasi bahwa langkah mitigasi dan perbaikan darurat yang telah dilakukan memberikan hasil positif dalam mengurangi risiko bencana.
Menjelang dimulainya pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi, BWS Sumatera V akan melakukan pengukuran langsung di lapangan sebagai bagian dari persiapan teknis pembangunan.
Reski berharap dukungan Pemerintah Kota Padang terus berlanjut, terutama dalam penyelesaian persoalan lahan dan proses relokasi warga yang berada di kawasan pembangunan. Sinergi kedua pihak dinilai menjadi faktor penting agar proyek pengendalian banjir dapat berjalan sesuai rencana dan memberikan perlindungan lebih baik bagi masyarakat.(des*)







