Pariaman Guncang Kejurnas Berkuda Memanah III Tahun 2026 Raih Tiga Mendali

Kota Pariaman – Jangan remehkan anak-anak muda dari Pariaman, Sumatera Barat. Di tengah kerasnya persaingan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Berkuda Memanah III Tahun 2026 di Bogor, enam atlet Pariaman Archery Equestrian (Paraquest) datang membawa keberanian.

Mereka pulang dengan tiga medali. Satu emas dan dua perunggu. Ini sebuah capaian yang sekaligus menegaskan bahwa talenta olahraga dari daerah mampu mencuri perhatian di panggung nasional.

Bertanding pada 17–20 September 2026 di Bogor, Jawa Barat, para atlet Paraquest harus menaklukkan tantangan yang tidak sederhana.

Berkuda memanah bukan sekadar soal menarik tali busur dan melepaskan anak panah. Di atas kuda yang bergerak, konsentrasi, keberanian, kecepatan, keseimbangan, dan ketepatan harus menyatu dalam hitungan detik. Sedikit saja kehilangan kendali, sasaran bisa meleset dan peluang podium ikut terlepas.

Tiga dari enam atlet yang dikirim berhasil membuktikan kualitasnya. Satu medali emas diraih melalui kategori Fast Shooting, sementara dua medali perunggu masing-masing diperoleh pada kategori berkuda memanah dan Triple Shoot, yakni menembak tiga target dalam satu lintasan.

Selain medali, para atlet juga memperoleh sertifikat dan tabanas. Hasil diperoleh Kota Pariaman ini bukan sekadar angka dalam daftar perolehan prestasi, tetapi buah dari latihan dan perjuangan yang akhirnya menemukan panggungnya.

Prestasi tersebut kemudian mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota Pariaman Yota Balad dan Wakil Wali Kota Mulyadi. Keduanya menerima enam atlet Paraquest dalam agenda silaturahmi di ruang kerja Wali Kota, Rabu (23/9/2026).

Pertemuan itu turut dihadiri Ketua KONI Edison TRD, Asisten I Elfis Candra, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Hertati Taher, Kepala Dinas Pariwisata Ferialdi, serta pelatih Paraquest.

Yota Balad menyebut keberhasilan tersebut sebagai sesuatu yang patut dibanggakan. Ia memberikan apresiasi kepada seluruh kontingen, mulai dari atlet, joki, pelatih hingga pemilik kuda yang ikut mempersiapkan para peserta menghadapi persaingan nasional.

Menurutnya, medali yang dibawa pulang bukan lahir secara instan, melainkan hasil dari kegigihan dan persiapan yang dilakukan sebelum pertandingan.

Lebih jauh, Pemerintah Kota Pariaman melihat olahraga berkuda memanah memiliki peluang yang lebih besar dari sekadar arena kompetisi.

Perpaduan antara olahraga, kuda, alam, atraksi, dan keterampilan dinilai dapat menjadi bagian dari pengembangan sport tourism di Kota Pariaman.

Yota Balad menegaskan pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan terhadap kemajuan olahraga berprestasi, termasuk panahan berkuda.

Tetapi ada satu pesan yang tak kalah penting dari tiga medali tersebut: perjuangan belum selesai. Kepada atlet yang belum meraih podium, Yota Balad meminta agar tidak menyerah dan menjadikan kekalahan sebagai bahan bakar untuk bangkit.

Sebab, dari enam atlet yang berangkat ke Bogor, hanya tiga yang membawa pulang medali. Namun keenamnya tetap membawa satu hal yang sama. Pengalaman bertanding di level nasional. Dan dari sanalah perjalanan Paraquest menuju panggung yang lebih tinggi justru bisa dimulai.(mak)