KNMP Pariaman: Batu Pertama Ditancap, Nasib Nelayan Dipertaruhkan!

Kota Pariaman – Batu pertama telah ditancapkan. Janji perubahan pun kembali digaungkan di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Namun bagi nelayan di Desa Marunggi, Kecamatan Pariaman Selatan, dan Desa Ampalu, Kecamatan Pariaman Utara, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) bukan sekadar seremoni dengan cangkul dan hamparan tanah.

Ini tentang harapan panjang masyarakat pesisir yang menunggu fasilitas layak, produktivitas meningkat, dan kehidupan yang benar-benar berubah. Peletakan batu pertama dilakukan Wali Kota Pariaman Yota Balad, Kamis (3/9/2026).

Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman menyebut KNMP sebagai langkah nyata untuk mengangkat kesejahteraan nelayan tradisional.

Yota Balad menegaskan, nelayan tidak boleh hanya dibebani perjuangan menangkap ikan, sementara fasilitas penunjangnya tertinggal.

Infrastruktur pesisir akan diperbaiki, sarana perikanan diperkuat, lingkungan permukiman ditata, dan berbagai kebutuhan pendukung produktivitas nelayan disiapkan.

Pertanyaannya kini sederhana: mampukah semua janji itu benar-benar sampai ke tangan nelayan?

Sebab persoalan nelayan bukan hanya soal laut dan ikan. Ada hasil tangkapan yang harus dijaga kualitasnya, fasilitas yang harus memadai, lingkungan yang harus sehat, serta roda ekonomi yang harus terus berputar.

KNMP dirancang untuk menjawab rantai persoalan tersebut. Kawasan ini nantinya dilengkapi sarana perikanan tangkap, fasilitas kebersihan hingga alat pendukung produktivitas, dengan harapan hasil tangkapan nelayan lokal memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.

Dua titik pembangunan, satu pertaruhan besar. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat Syefdinon mengungkapkan, pada 2026 Sumbar memperoleh 26 KNMP dan dua di antaranya berada di Kota Pariaman.

Program pemerintah pusat ini diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan yang selama ini dihadapi nelayan sekaligus mendorong kemandirian pangan laut.

Tetapi proyek sebesar ini tidak cukup hanya dengan baliho, seremoni, dan dokumentasi peletakan batu pertama.

Masyarakat kini menunggu pekerjaan nyata di lapangan. Mereka membutuhkan pembangunan yang berjalan lancar, selesai tepat waktu, fasilitas yang benar-benar berfungsi, serta manfaat yang tidak berhenti di atas kertas.

Yota Balad mengajak seluruh elemen masyarakat ikut menjaga dan mendukung kelancaran proyek hingga selesai.

Di titik inilah KNMP Pariaman akan diuji. Apakah ia akan menjadi wajah baru kawasan nelayan atau sekadar meninggalkan jejak proyek yang indah saat difoto?

Jawabannya tidak ditentukan oleh meriahnya seremoni hari ini, melainkan oleh perubahan kehidupan masyarakat setelah fasilitas tersebut benar-benar beroperasi.

Nelayan membutuhkan bukti, bukan sekadar janji; membutuhkan produktivitas, bukan sekadar bangunan.

Kini harapan itu telah diletakkan bersama batu pertama. Marunggi dan Ampalu menunggu. Para nelayan menunggu.

Dan pemerintah dituntut membuktikan bahwa program ini mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang, hasil tangkapan menjadi nilai ekonomi, dan kawasan pesisir menjadi pusat kehidupan yang lebih layak.

Jika berhasil, KNMP bisa menjadi titik balik nelayan Pariaman. Jika gagal, batu pertama itu hanya akan menjadi simbol dari janji yang pernah ditanam.(mak).