Pemilik Kucing Wajib Paham, 3 Gangguan Ini Banyak Ditemukan di Indonesia

Harus waspada, tiga penyakit yang banyak dialami kucing Indonesia.
Harus waspada, tiga penyakit yang banyak dialami kucing Indonesia.

Jakarta – Memelihara kucing kini menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga di Indonesia. Namun, bertambahnya jumlah hewan peliharaan juga membuat pemilik perlu semakin memahami kondisi kesehatan dan kebutuhan perawatan kucing.

Studi Royal Canin bersama Kantar pada 2026 mencatat sekitar 31% rumah tangga di Indonesia memiliki hewan kesayangan. Kucing menjadi hewan yang jauh lebih banyak dipelihara dibandingkan anjing, dengan jumlah populasinya diperkirakan mencapai 12 kali lipat.

Kepemilikan lebih dari satu kucing juga cukup umum. Dari rumah tangga yang memelihara kucing, sekitar 40% di antaranya memiliki minimal dua ekor.

Kondisi itu membuat pengetahuan mengenai penyakit yang umum menyerang kucing menjadi semakin penting. Dengan mengenali gejala sejak awal, pemilik dapat lebih cepat menentukan kapan hewan peliharaan membutuhkan pemeriksaan profesional.

Berikut tiga kelompok gangguan kesehatan yang banyak menjadi perhatian pada kucing di Indonesia:

1. Gangguan Kulit

Persoalan pada kulit dan bulu termasuk keluhan yang kerap ditemukan pada kucing. Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi jamur hingga serangan kutu.

Pemilik biasanya dapat melihat perubahan melalui kondisi fisik kucing. Hewan yang mengalami gangguan kulit bisa menjadi lebih sering menggaruk, mengalami kerontokan, memiliki bagian kulit yang memerah, atau menunjukkan perubahan lain pada permukaan kulit dan bulunya.

Masalah tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele. Rasa gatal dan iritasi dapat membuat kucing terus-menerus merasa tidak nyaman, sementara beberapa kondisi membutuhkan diagnosis serta pengobatan khusus dari dokter hewan.

Faktor lingkungan juga tidak boleh diabaikan. Area tidur, kandang, tempat makan, litter box, serta bagian rumah yang sering digunakan kucing perlu dijaga kebersihannya secara teratur.

2. Gangguan Saluran Cerna

Muntah dan diare merupakan dua tanda yang dapat muncul ketika kucing mengalami gangguan pada sistem pencernaan.

Pemicu masalah ini cukup beragam. Pergantian makanan yang dilakukan secara mendadak, jenis makanan yang tidak cocok, maupun kondisi kesehatan tertentu dapat memengaruhi saluran pencernaan kucing.

Jika muntah atau diare hanya terjadi sesekali, belum tentu kondisi tersebut menunjukkan penyakit berat. Namun, pemilik perlu lebih waspada apabila gejalanya berulang atau muncul bersama tanda lain seperti kehilangan nafsu makan, perubahan perilaku, dan tubuh yang terlihat lemah.

Pola pemberian makanan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kucing. Faktor seperti usia, kondisi fisik, dan kebutuhan nutrisi perlu menjadi pertimbangan dalam memilih makanan.

3. Gangguan Saluran Kemih

Kesehatan saluran kemih menjadi persoalan lain yang perlu mendapat perhatian pemilik kucing. Salah satu cara mendeteksinya adalah dengan mengamati perubahan kebiasaan saat buang air kecil.

Kucing yang mengalami masalah urinary dapat menunjukkan perilaku seperti lebih sering mendatangi litter box, terlihat mengejan saat buang air kecil, atau tiba-tiba buang air di luar tempat yang biasanya digunakan.

Perubahan tersebut sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja. Gangguan saluran kemih dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan dalam situasi tertentu membutuhkan pemeriksaan serta tindakan medis dengan segera.

Untuk membantu menjaga kesehatan saluran kemih, pemilik perlu memastikan kucing memperoleh cukup air. Litter box juga harus dijaga kebersihannya dan ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau.

Kondisi di Indonesia Berbeda dengan Negara Lain

Jenis masalah kesehatan yang menjadi perhatian pemilik kucing di Indonesia ternyata tidak sepenuhnya sama dengan tren di sejumlah negara lain.

Country Head Royal Canin Indonesia Mohamad Yusuf Hasanudin mengatakan tiga persoalan yang banyak ditemukan di Indonesia mencakup gangguan dermatologi, pencernaan, dan saluran kemih.

“Di Indonesia ada tiga masalah utama, pertama dermatologi, seperti jamuran dan kutuan. Kemudian gastro, seperti diare dan muntah. Ketiga itu urinary,” kata Yusuf.

Sementara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat, isu kesehatan kucing yang lebih banyak mendapat perhatian antara lain obesitas serta persoalan yang berkaitan dengan proses penuaan atau ageing.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa edukasi mengenai kesehatan hewan perlu mempertimbangkan kondisi dan karakteristik di setiap wilayah.

Perawatan Tidak Menunggu Kucing Sakit

Meningkatnya jumlah keluarga yang memelihara hewan kesayangan membuat pemahaman mengenai kesehatan kucing menjadi semakin penting. Perawatan idealnya tidak baru dilakukan ketika hewan menunjukkan kondisi sakit.

Pemilik perlu mengenali perubahan kecil dalam perilaku maupun kondisi fisik kucing. Perubahan pola makan, kondisi kulit dan bulu, kebiasaan buang air, hingga tingkat aktivitas dapat menjadi petunjuk awal adanya masalah.

Yusuf menekankan bahwa pemeliharaan kesehatan hewan seharusnya dilakukan sejak awal, bukan hanya ketika penyakit sudah muncul.

“Menjaga kesehatan hewan bukan hanya tentang merawat saat sakit, tetapi memahami dan memenuhi kebutuhan mereka sejak dini,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemenuhan nutrisi yang sesuai, peningkatan pengetahuan pemilik, serta konsultasi dengan dokter hewan merupakan sejumlah faktor yang dapat mendukung kesehatan kucing dan anjing sepanjang kehidupannya.

Dengan memahami gangguan yang umum terjadi, pemilik kucing diharapkan dapat lebih cepat menyadari ketika terdapat perubahan pada hewan peliharaannya. Sebab, kucing tidak selalu memperlihatkan rasa sakit secara terang-terangan, sehingga perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari justru perlu menjadi perhatian.(BY)