Kota Pariaman – Kota Pariaman, Sumatera Barat mulai membidik serius potensi ekonomi kreatif sebagai kekuatan baru penggerak daerah. Sinyal itu terlihat dari kunjungan silaturahmi Deputi Bidang Kreativitas Media Ekonomi Kreatif Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi, ke Rumah Dinas Wali Kota Pariaman, pada Kamis (20/8/2026).
Kedatangan Cecep Rukendi disambut langsung Wali Kota Pariaman Yota Balad bersama Ketua Dekranasda Kota Pariaman Ny.Yosneli Balad.
Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi agenda silaturahmi pejabat pusat dan daerah. Tetapi membuka ruang pembicaraan mengenai arah pengembangan ekonomi kreatif Kota Pariaman yang selama ini menyimpan potensi besar.
Yota Balad dalam kesempatan itu didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ferialdi.
Kehadiran jajaran tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif mulai ditempatkan dalam satu ekosistem dengan sektor pariwisata dan kebudayaan. Dua kekuatan yang menjadi modal penting Pariaman untuk menciptakan produk kreatif yang memiliki identitas lokal sekaligus bernilai ekonomi.
Pertemuan dengan pejabat Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif tersebut menjadi momentum penting bagi Pemko Pariaman untuk memperkuat perencanaan.
Sebab, ekonomi kreatif tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas masyarakat. Dibutuhkan arah kebijakan, pendampingan, penguatan pelaku usaha, promosi serta kemampuan mengubah karya dan budaya lokal menjadi produk yang mampu bersaing.
Di tengah persaingan antardaerah merebut pasar wisata dan ekonomi kreatif, Pariaman menghadapi peluang sekaligus tantangan.
Kekayaan budaya, tradisi, kerajinan, kuliner dan kreativitas masyarakat bisa menjadi kekuatan ekonomi jika dikelola secara serius. Sebaliknya, tanpa perencanaan yang matang, potensi tersebut hanya akan menjadi kekayaan lokal yang ramai dipuji tetapi minim nilai tambah bagi masyarakat.
Silaturahmi ini diharapkan menjadi pijakan untuk menyusun pengembangan ekonomi kreatif Kota Pariaman secara lebih terarah.
Kolaborasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dapat membuka peluang penguatan kapasitas pelaku kreatif. Sekaligus memperluas jejaring pemasaran dan promosi produk-produk unggulan daerah.
Pertemuan Yota Balad dan Cecep Rukendi akhirnya membawa satu pesan. Pariaman tidak boleh hanya menjadi penonton dalam geliat ekonomi kreatif nasional.
Potensi lokal harus diolah menjadi kekuatan ekonomi, kreativitas harus diberi ruang, dan identitas budaya harus mampu naik kelas menjadi produk bernilai.
Jika strategi ini konsisten dijalankan, ekonomi kreatif bukan hanya menjadi pelengkap pariwisata. Tetapi bisa menjadi mesin baru yang menggerakkan ekonomi masyarakat Kota Pariaman.(mak)







