Agam, fajarharapan.id – Pemerintah Kabupaten Agam terus menunjukkan komitmennya dalam mempercepat pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah pada akhir 2025. Salah satu fokus utama yang kini dikebut adalah penyediaan hunian tetap (huntap) bagi ratusan keluarga terdampak agar dapat segera menempati rumah yang aman dan layak.
Meski proses persiapan terus berjalan, Pemerintah Kabupaten Agam masih membutuhkan tambahan lahan seluas 3,5 hektare untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kawasan hunian tetap. Kekurangan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar seluruh korban yang memilih skema relokasi kolektif dapat segera memperoleh tempat tinggal permanen.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kabupaten Agam, Rinaldi, mengatakan pemerintah daerah terus bergerak mencari lokasi yang sesuai sekaligus memenuhi berbagai persyaratan teknis agar pembangunan huntap dapat segera direalisasikan.

“Kami masih membutuhkan sekitar 3,5 hektare lahan. Saat ini proses pencarian terus dilakukan dan menjadi prioritas agar pembangunan hunian tetap dapat berjalan sesuai rencana,” ujarnya di Lubuk Basung, Jumat (10/7/2026).
Menurut Rinaldi, terdapat dua kawasan yang saat ini menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan lahan tersebut, yakni kawasan Hunian Sementara (Huntara) Kayu Pasak di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, serta eks lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT Inang Sari di Kecamatan Lubuk Basung. Kedua lokasi itu sedang dikaji secara menyeluruh sebelum proses pengadaan lahan dilakukan.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Agam akan berupaya maksimal agar kebutuhan lahan dapat segera dipenuhi sehingga pembangunan kawasan hunian tetap tidak mengalami kendala.
“Kami optimistis kekurangan lahan ini bisa segera dituntaskan sehingga proses pembangunan dapat berjalan sesuai target,” katanya.

Secara keseluruhan, pembangunan 699 unit hunian tetap membutuhkan lahan sekitar 10 hektare. Hingga kini, pemerintah daerah telah berhasil menyiapkan 6,5 hektare lahan yang tersebar di tiga lokasi strategis.
Lokasi pertama berada di Dama Gadang, Nagari Dalko, Kecamatan Tanjung Raya, dengan luas efektif sekitar 4,5 hektare. Selain itu, tersedia lahan seluas 1,1 hektare di kawasan Balai Benih Ikan (BBI) Gumarang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, serta lahan seluas satu hektare di Padang Tarok, Nagari Salareh Aia Utara, Kecamatan Palembayan.
Rinaldi memastikan ketiga lokasi tersebut telah siap untuk mendukung pembangunan hunian tetap bagi masyarakat yang terdampak banjir bandang, tanah longsor, maupun banjir. Kehadiran kawasan huntap diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar para penyintas dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih aman dan nyaman.
Melalui langkah percepatan penyediaan lahan dan pembangunan hunian tetap ini, Pemerintah Kabupaten Agam menegaskan keseriusannya dalam menghadirkan pemulihan yang berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana. Tidak hanya membangun rumah, pemerintah juga berupaya membangun kembali harapan dan kehidupan baru bagi ratusan keluarga yang menjadi korban bencana hidrometeorologi.(Adv/Iban)







