Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat menetapkan aturan baru yang melarang pengiriman chip kecerdasan buatan (AI) berteknologi tinggi kepada anak perusahaan milik perusahaan China, meskipun entitas tersebut beroperasi di luar wilayah China. Kebijakan ini diambil untuk menutup celah dalam sistem pengawasan ekspor teknologi.
Departemen Perdagangan AS menjelaskan bahwa aturan yang diumumkan pada akhir Mei tersebut menegaskan kewajiban izin ekspor tetap berlaku bagi semua perusahaan yang berinduk di China, tanpa melihat lokasi operasionalnya.
Kebijakan ini disampaikan melalui Bureau of Industry and Security sebagai respons atas kebingungan di kalangan industri setelah perubahan regulasi sebelumnya. Sebelumnya, terdapat ketidakpastian mengenai keberlanjutan pembatasan ekspor setelah kerangka aturan yang disusun pada era Joe Biden dicabut.
BIS menegaskan bahwa meskipun kerangka lama telah dibatalkan, kewajiban perizinan ekspor tetap diberlakukan. Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump juga membatalkan rencana aturan tersebut sebelum diterapkan, dengan alasan dinilai terlalu membebani regulasi dan berpotensi mengganggu hubungan internasional.
Perusahaan semikonduktor asal AS, Nvidia, menyatakan bahwa proses penjualan mereka tetap mengikuti ketentuan terbaru, termasuk kewajiban lisensi untuk pengiriman produk ke entitas yang berbasis di China.
Sementara itu, kompetitor seperti AMD dan Intel belum memberikan tanggapan resmi terkait kebijakan ini. Di sisi lain, TSMC sebagai produsen chip global juga memilih tidak berkomentar.
Mantan pejabat kebijakan teknologi AS, Chris McGuire, menilai sebelumnya terdapat celah yang memungkinkan perusahaan China memperoleh chip yang sebenarnya masuk dalam pembatasan ekspor. Ia menyebut kurangnya kejelasan aturan membuat transaksi tersebut tetap dianggap legal.
Menurutnya, penegasan aturan terbaru ini kembali memperjelas bahwa pengiriman chip canggih ke perusahaan yang berpusat di China—meskipun berada di luar negeri—kini kembali dilarang.
Kebijakan ini merupakan bagian dari persaingan teknologi antara Washington dan Beijing, khususnya dalam pengembangan kecerdasan buatan. Sebelumnya, pada akhir 2025, pemerintah AS sempat melonggarkan pembatasan dengan mengizinkan penjualan chip tertentu dari Nvidia ke China.(BY)







