Jakarta – Daging kurban kerap diolah menjadi berbagai hidangan, dan sate menjadi salah satu menu favorit karena prosesnya yang praktis. Namun, seorang chef justru tidak menyarankan daging kurban langsung diolah menjadi sate.
Umumnya, daging sapi atau kambing hasil kurban bisa dimasak menjadi beragam sajian seperti gulai, tongseng, hingga semur. Meski sate terlihat sederhana karena hanya perlu dipotong, ditusuk, dibumbui, lalu dibakar, ternyata metode ini tidak selalu menghasilkan tekstur terbaik.
Stefu Santoso, seorang chef yang berpengalaman dalam mengolah daging, menjelaskan bahwa daging kurban sebaiknya tidak langsung dimasak setelah pemotongan. Menurutnya, daging yang masih sangat segar memiliki tekstur yang cenderung keras dan kenyal.
Ia menegaskan bahwa jika daging tersebut langsung dibakar seperti sate, hasilnya berisiko menjadi alot dan kurang nikmat saat dikonsumsi. Hal ini karena serat daging belum mengalami proses pelunakan secara alami.
Sebaliknya, metode memasak dengan teknik basah seperti merebus atau mengolah menjadi gulai dan tongseng dinilai lebih tepat. Proses memasak dalam waktu lama dengan cairan dapat membantu memecah serat daging, sehingga teksturnya menjadi lebih empuk.
Selain itu, daging kurban juga membutuhkan proses pelayuan sebelum diolah. Tahapan ini penting untuk meningkatkan kualitas tekstur daging. Untuk daging kambing, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai sekitar 18 hari agar lebih layak diolah menjadi hidangan tertentu.
Sementara itu, daging sapi yang memiliki ukuran dan serat lebih besar biasanya memerlukan waktu pelayuan yang lebih lama lagi agar hasil masakannya optimal.(BY)







