Kota Pariaman – Senja di Pentas Seni Pantai Kata, Kota Pariaman, Minggu (19/4/2026), tak sekadar menjadi latar perayaan. Di tengah semilir angin laut, peringatan Harlah ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berubah menjadi panggung penegasan arah. Mahasiswa diminta turun tangan, bukan hanya bersuara.
Pesan keras itu disampaikan Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman melalui Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Ferialdi.
Ia menegaskan, pembangunan pariwisata dan peningkatan kualitas SDM kini menjadi fokus utama daerah. Dalam konteks itu, PMII dituntut hadir sebagai kekuatan moral sekaligus motor penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Bagi pemerintah, kritik tanpa solusi bukan lagi zamannya. Ferialdi secara lugas mengingatkan kader PMII agar menjadi “intelektual movement” yang mampu menawarkan gagasan nyata, terutama dalam sektor pendidikan dan ekonomi kreatif yang menopang geliat pariwisata.
Momentum Harlah yang dirangkai dengan halal bihalal disebutnya bukan sekadar seremoni. Ini titik balik untuk menghidupkan kembali energi pergerakan pasca Ramadan. Membangun sinergi, memperkuat kolaborasi, dan memastikan mahasiswa tak berjalan sendiri, melainkan seirama dengan arah pembangunan daerah.
Di sisi lain, pendiri PMII Kota Pariaman, Armaidi Tanjung, mengajak kader menengok akar sejarah.
Ia menekankan pentingnya menyambungkan spirit perjuangan dengan para pendahulu. Sebuah pengingat bahwa organisasi ini berdiri bukan dari ruang kosong, melainkan dari idealisme panjang sejak 2007 di Kota Pariaman.
Rentang hampir dua dekade itu, menurutnya, telah melahirkan banyak alumni yang kini berkiprah di berbagai lini. Dari ASN, pendidik, hingga pelaku usaha. Jejak itu menjadi bukti bahwa PMII bukan sekadar wadah diskusi, tetapi ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan. Nada serupa disampaikan mantan Ketua PMII Kota Pariaman, Ory Sativa Sakban.
Ia menegaskan pentingnya proses berorganisasi sebagai bekal masa depan. “Di sinilah kader belajar memimpin dan dipimpin, sekaligus membangun jejaring yang kelak menentukan langkah mereka,” ujarnya.
Acara pun ditutup dengan suasana hangat pemotongan kue oleh Ketua PMII Kota Pariaman, Annisa Pitri, yang diserahkan kepada para senior.
Namun pesan yang tersisa jauh lebih tajam. Usia 66 tahun bukan sekadar angka, melainkan ujian apakah PMII masih relevan. Atau justru tertinggal di tengah tuntutan zaman yang kian nyata.(r-mak).






