Jakarta – Riuh pembicaraan soal investasi kembali mengemuka saat Wali Kota Pariaman, Yota Balad, duduk satu meja dengan para kepala daerah se-Sumatera Barat. Di ruang rapat Kantor BP BUMN, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2036) pertemuan itu bukan sekadar seremonial, melainkan pertaruhan arah masa depan ekonomi daerah yang selama ini dinilai jalan di tempat.
Di tengah tekanan untuk keluar dari stagnasi, nama Dony Oskaria mencuat sebagai sosok yang menegaskan satu hal tanpa basa-basi. Investasi adalah kunci yang selama ini belum benar-benar diputar.
Ia mengingatkan, tanpa keberanian membuka pintu lebih lebar, Sumatera Barat akan terus tertinggal dari daerah lain yang sudah berlari lebih dulu.
Rapat koordinasi yang digagas Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah itu mempertemukan kepentingan pusat dan daerah dalam satu forum strategis.
Para bupati dan wali kota hadir membawa harapan, sekaligus kegelisahan. Bagaimana memecah kebuntuan pembangunan yang selama ini bergantung pada pola lama.
Sorotan tajam mengarah pada sektor-sektor yang selama ini dianggap tidur panjang. Kelapa dan gambir. Hilirisasi dua komoditas ini didorong bukan sekadar wacana, melainkan sebagai jalan konkret membuka lapangan kerja dan menghentikan kebiasaan menjual bahan mentah tanpa nilai tambah.
Namun, kritik terselip di balik optimisme. Kepala BP BUMN Dony Oskaria yang memimpin Rakor menegaskan bahwa investasi tidak boleh berhenti sebagai angka di atas kertas.
Ia menuntut kehadiran proyek nyata. Pabrik berdiri, tenaga kerja terserap, dan perputaran ekonomi terasa langsung oleh masyarakat, bukan hanya laporan yang rapi di meja birokrasi.
Pariwisata dan kawasan kuliner tematik ikut masuk dalam radar pembahasan. Potensi besar yang dimiliki Sumbar dinilai belum digarap serius, padahal sektor ini bisa menjadi pintu cepat mendongkrak ekonomi jika ditopang infrastruktur dan promosi yang tepat.
Pertemuan itu akhirnya menyisakan satu pesan keras. Daerah tidak bisa lagi menunggu. Pemerintah kabupaten dan kota didorong menciptakan iklim investasi yang ramah, pasti, dan menguntungkan semua pihak. Sebab jika tidak, peluang hanya akan lewat, Sumatera Barat kembali menjadi penonton di tengah derasnya arus pertumbuhan ekonomi nasional.(mak).






