Jakarta – Pemerintah Iran memberikan tanggapan keras terhadap langkah Amerika Serikat (AS) yang melakukan blokade di Selat Hormuz.
Teheran bahkan mengisyaratkan kemungkinan mengambil tindakan serupa terhadap Laut Merah serta jalur pelayaran strategis lainnya di kawasan tersebut.
Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, yang merupakan pejabat di Markas Besar Khatam Al Anbiya—komando militer tertinggi Iran, menyampaikan peringatan bahwa pihaknya dapat menutup akses pelayaran di Laut Merah dan wilayah perairan penting lainnya apabila tekanan dan blokade AS terhadap pelabuhan Iran terus berlanjut.
Dalam pernyataannya di televisi yang dikutip oleh Middle East Eye, Aliabadi menilai langkah AS berpotensi menciptakan ketidakamanan bagi kapal dagang maupun tanker minyak Iran. Ia juga menyebut situasi tersebut sebagai awal dari pelanggaran terhadap gencatan senjata yang tengah berlangsung.
Lebih lanjut, Aliabadi menegaskan bahwa militer Iran tidak akan membiarkan aktivitas ekspor dan impor berjalan normal di sejumlah perairan vital seperti Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah jika kondisi terus memanas.
Menanggapi ancaman tersebut, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta tim negosiasi AS telah menetapkan batasan yang jelas dalam kebijakan mereka.
Leavitt menilai sikap Iran mencerminkan tekanan yang semakin besar akibat kebijakan AS. Ia juga menyebut bahwa langkah blokade yang dilakukan oleh angkatan laut AS dinilai efektif dalam membatasi pergerakan kapal tanker minyak.
Sementara itu, Pusat Komando AS (Centcom) mengklaim bahwa dalam 48 jam pertama sejak blokade diberlakukan di Selat Hormuz, tidak ada satu pun kapal yang berhasil melintas.
Klaim ini berbeda dengan sejumlah laporan media yang menyebutkan bahwa puluhan kapal, termasuk tanker asal China, masih dapat melewati jalur tersebut tanpa hambatan. (des*)






