Lobi Sunyi Wako Yota Balad ke Menteri Dody Hanggodo untuk Pasar Basah Pariaman Dibidik APBN

Kota Pariaman – Langkah itu tak banyak disorot, namun dampaknya bisa menentukan denyut ekonomi warga. Wali Kota Pariaman, Sumatera Barat, Yota Balad, menemui Menteri Pekerjaan Umum RI, Dody Hanggodo, di Gedung Indo Jolito, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, pada Selasa (3/3/2026).

Agenda utamanya tegas. Mengamankan dukungan pembangunan pasar baru atau pasar basah untuk Kota Pariaman.

Pertemuan itu bukan tanpa jejak. Sejak September 2025 lalu, usulan pembangunan pasar dan infrastruktur lain telah disampaikan melalui Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade.

Kini, komunikasi yang dirintis berbulan-bulan itu menemukan momentumnya.

Dalam forum tersebut, Dody Hanggodo bahkan menginstruksikan agar proses pembangunan pasar baru segera dikawal bersama Andre Rosiade dan Anggota Komisi V DPR RI, Zigo Rolanda.

Sinyal politik dan dukungan teknis seakan bertemu di satu titik itu adalah revitalisasi Pasar Basah Kota Pariaman.

Namun ambisi Yota Balad tak berhenti di pasar basah. Ia juga mendorong peningkatan jalan dari Simpang Balai Naras menuju Lakuak Tarok, serta perbaikan ruas Simpang Tembok, Desa Toboh Palabah hingga Simpang Lambang Air Santok.

Ruas-ruas itu bukan sekadar aspal. Di sanalah aktivitas sekolah, kantor pemerintahan, dan mobilitas warga berdenyut setiap hari.

“Perbaikan jalan tersebut menjadi kebutuhan sekali,” tegas Yota Balad. Ia menyoroti tingginya lalu lintas warga, terutama karena sepanjang jalur tersebut berdiri SD, SMP, hingga SMA/SMK.

Infrastruktur, bagi Yota Balad, bukan proyek simbolik, melainkan kebutuhan dasar yang tak bisa ditunda.

Di hadapan para pejabat, termasuk Wakil Menteri Tenaga Kerja RI Afriansyah Noor dan Bupati Tanah Datar Eka Putra, Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan komitmennya.

Ia menyebut pembangunan Sumatera Barat akan bergerak cepat jika kepala daerahnya aktif menjemput peluang. Pemerintah pusat, kata dia, siap mendukung bila usulan daerah jelas dan terukur.

Kini, harapan itu bergantung pada keberlanjutan komunikasi dan realisasi anggaran APBN. Dengan keterbatasan fiskal daerah, dukungan Kementerian menjadi kunci.

Jika pasar baru dan ruas jalan itu benar-benar terwujud, maka bukan hanya wajah kota yang berubah. Tetapi juga perputaran ekonomi dan daya saing Pariaman sebagai destinasi wisata regional Sumatera, bahkan nasional.(mak).