Video Seks Call Bupati Limapuluh Kota Beredar, Safni Sikumbang Tuntut Jalur Hukum

Video Call Seks (VCS) diduga bupati Lima Puluh Kota heboh.
Video Call Seks (VCS) diduga bupati Lima Puluh Kota heboh.

Padang, fajarharapan.id – Sumatera Barat (Sumbar) khususnya Kabupaten Limapuluh Kota dihebohkan video call sek (VCS) seorang kepala daerah. Video dengan durasi singkat itu menampilkan sosok pria diduga menyerupai Bupati Lima Puluh Kota, Safni Sikumbang.

Beredarnya video tersebut menghebohkan jagat maya. Kini kasus tersebut telah ditangani penyidik Polda Sumbar.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumbar, Kombes Pol Andry Kurniawan, membenarkan adanya laporan tersebut saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (24/2/2026). Ia menyebut laporan itu telah diterima dan saat ini tengah dalam proses penyelidikan oleh tim siber.

Menurut Andry, laporan tersebut diajukan langsung oleh Safni pada awal Februari 2025. Laporan berkaitan dengan dugaan pemerasan yang dilakukan pihak tak dikenal, menyusul beredarnya rekaman video call yang disebut-sebut memperlihatkan sosok pria yang memiliki kemiripan dengan bupati Limapuluh Kota.

“Perkara yang kami tangani adalah dugaan pemerasan. Prosesnya masih tahap penyelidikan,” ujar Andry.

Ia menjelaskan, terlapor dalam kasus ini diduga menggunakan akun palsu atau fake account di media sosial. Akun tersebut, kata dia, menghubungi korban dan meminta sejumlah uang dengan iming-iming tidak akan menyebarluaskan video yang dimaksud.

Penyidik saat ini masih menelusuri identitas di balik akun tersebut, termasuk kepemilikan rekening yang digunakan untuk menerima transfer dana. “Akun yang dilaporkan adalah akun palsu. Kami sedang mendalami siapa pengendalinya dan ke mana aliran dananya,” jelasnya.

Terkait nominal uang yang diminta, Andry tidak merinci secara detail. Namun ia memastikan permintaan tersebut disertai ancaman penyebaran video apabila uang tidak dikirimkan. Motif awal yang didalami adalah upaya memperoleh keuntungan secara melawan hukum.

Selain fokus pada dugaan pemerasan, penyidik juga menelusuri sumber awal penyebaran video berdurasi sekitar 30 detik tersebut. Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang pria berada di dalam kamar dan melakukan panggilan video dengan seorang perempuan yang identitasnya belum diketahui.

Wajah perempuan dalam video tidak terlihat jelas, sehingga belum dapat dipastikan siapa sosok yang terlibat dalam percakapan tersebut. Aparat menduga pihak yang menyebarkan video memiliki keterkaitan dengan pelaku pemerasan, namun hal itu masih dalam pendalaman.

“Kami juga menelusuri dari mana pertama kali video itu tersebar di masyarakat. Ada kemungkinan pihak yang sama terlibat, tetapi semuanya masih kami dalami,” tambah Andry.

Kasus ini kini sepenuhnya berada dalam penanganan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus. Kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak ikut menyebarluaskan konten yang belum terverifikasi, serta menyerahkan proses hukum kepada aparat yang berwenang. (Ab)