Sumbar  

Polda Sumbar Jalankan Operasi Kemanusiaan Besar Pasca Bencana Hidrometeorologi: 5.236 Personel Dikerahkan, Korban Tewas Capai 148 Jiwa

Padang – Sumatera Barat memasuki fase paling menentukan dalam penanganan darurat bencana hidrometeorologi.
Untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir, lebih dari 5.200 personel gabungan dikerahkan secara masif ke wilayah terdampak, menjadikan operasi ini sebagai operasi kemanusiaan terbesar yang pernah dilakukan di Sumbar sepanjang 2025.

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, menyampaikan bahwa hingga Minggu sore, tercatat 5.236 personel sudah berada di lapangan untuk mempercepat pencarian korban, evakuasi, identifikasi jenazah, hingga pemulihan jalur logistik di wilayah yang masih terisolasi.
“Ini adalah pengerahan personel terbesar dalam penanganan bencana di Sumbar tahun ini. Semua kekuatan kita kerahkan untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan terkoordinasi,” ujar Susmelawati.

Dalam laporan resminya, kekuatan personel tersebut meliputi:
Pusdokkes Mabes Polri: 8 personel
BKO DVI Polda Riau: 20 personel
BKO Polda Jambi: 66 personel
Fokus utama pengerahan ini adalah penguatan pencarian korban hilang, pembukaan jalur vital, dan percepatan identifikasi jenazah oleh Tim DVI.

Dalam perkembangan terbaru, jumlah korban jiwa kembali naik.
“Total korban meninggal dunia saat ini berjumlah 148 orang. Dari jumlah itu, 126 telah berhasil diidentifikasi, sementara 22 korban masih dalam proses identifikasi,” jelas Susmelawati.

Selain itu, 86 orang masih dinyatakan hilang, tersebar di sepanjang aliran sungai, lereng tebing longsor, hingga permukiman yang tersapu banjir bandang.
Tim gabungan TNI–Polri, Basarnas, BPBD, dan relawan terus melakukan penyisiran hingga ke titik-titik ekstrem.

Perahu SAR, alat berat, hingga personel yang terlatih untuk operasi di medan sulit diturunkan ke lokasi-lokasi yang masih rawan runtuhan dan banjir susulan.
Cuaca yang fluktuatif memaksa seluruh tim bergerak dengan kehati-hatian penuh.

Setiap regu bekerja dalam pengawasan ketat, mengantisipasi potensi longsor tambahan maupun peningkatan debit air sungai.
Dengan ratusan warga masih dinyatakan hilang dan banyak wilayah belum sepenuhnya terjangkau, operasi ini kini menjadi perlombaan dengan waktu.

Setiap jam menentukan peluang menemukan korban, menyelamatkan yang selamat, dan mengirim bantuan ke daerah yang terputus aksesnya.
Sumbar masih berjibaku dan seluruh kekuatan kemanusiaan telah diturunkan untuk memastikan tak satu pun titik bencana dibiarkan tanpa penanganan. (*)