LAPORAN KHUSUS
Pasaman – Wakil Bupati (Wabup) Pasaman, Sabar AS., mengatakan target menjadikan Pasaman sebagai salah satu daerah tujuan utama pariwisata di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) bukan rencana tanpa dasar.
“Sudah didasarkan dan didukung oleh konsep atau perencanaan yang sangat matang,” kata Wabup Sabar kepada fajarharapan.id di Lubuk Sikaping, ibukota Kabupaten Pasaman, belum lama ini.
Tapi diakui Wabup Sabar, perlu proses dan waktu yang panjang untuk menunggu implementasi dari konsep pengembangan pariwisata itu. “Ini bukan kegiatan bim-salabim, melainkan pekerjaan yang memerlukan waktu dan proses yang panjang,” ungkapnya.
Bila semua tahapan atau proses dalam rencana pengembangan pariwisata itu berhasil diimplementasikan, menurut Wabup Sabar, target menjadikan Pasaman sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama di Sumbar diyakini akan tercapai.
Selain memerlukan dukungan dana, baik dari APBD Pasaman maupun dari APBD Sumbar dan sumber-sumber dana lainnya yang sah, menurut Wabup Sabar, target menjadikan Pasaman sebagai daerah tujuan wisata juga memerlukan dukungan dari semua pihak.
“Termasuk dukungan dari semua elemen yang ada di masyarakat,” ujar Sabar AS, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Pasaman itu. “Terutama sikap mental dalam menyambut kunjungan wisatawan.”
Dalam konteks ini, menurut Wabup Sabar, masyarakat mesti memiliki persepsi yang sama dan sebangun dalam memandang dan memberlakukan kegiatan kepariwisataan, yang diposisikan sebagai salah satu mesin penggerak pertumbuhan ekonomi di Pasaman.
Dijelaskan Wabup Sabar, pembangunan dan pengembangan sektor kepariwisataan Pasaman tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) Pasaman tahun 2021-2025.
Itu artinya, menurut Wabup Sabar, rencana pembangunan dan pengembangan sektor kepariwisataan Pasaman merupakan amanat RPJMD Pasaman 2021-2025 yang harus dilaksanakan oleh semua stakeholder terkait di daerah ini.
Dijelaskan, dalam RPJMD Pasaman 2021-2025 itu tertuang secara detail semua item yang diperlukan untuk membangun dan mengembangkan sektor kepariwisataan di Pasaman. “Termasuk juga sumber dana kegiatannya,” tandas Wabup Sabar.
Diyakini Wabup Sabar, bila semua konsep pengembangan kepariwisataan yang tertuang di RPJMD Pasaman 2021-2025 berhasil dilaksanakan, target menjadikan Pasaman sebagai salah satu daerah tujuan wisatawan utama di Sumbar akan terwujud.
LAPORAN KHUSUS
Wabup Sabar AS Sebut Sedang Disiapkan Bonjol Menjadi Kawasan Wisata Terpadu di Pasaman
Di antara sejumlah potensi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Pasaman di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), aneka potensi wisata yang ada di Kecamatan Bonjol termasuk yang terbilang menonjol.
Makanya, menurut Wakil Bupati (Wabup) Pasaman Sabar AS, dalam konsep pengembangan sektor kepariwisataan di Pasaman, penanganan aneka potensi yang ada di Bonjol termasuk ke dalam skala prioritas.

Dijelaskan juga oleh Wabup Sabar, karena menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan ke depan, pengembangan dan pembangunan sektor itu di Kabupaten Pasaman sudah didasarkan kepada pemetaan potensi kawasan.
“Sudah melalui kajian dan pertimbangan yang sangat matang dan terukur,” ujar Wabup Sabar AS kepada fajarharapan.id di Lubuk Sikaping, ibukota Kabupaten Pasaman, belum lama ini.
Salah satu kawasan yang sedang dipersiapkan menjadi destinasi wisata andalan di kabupaten tersebut adalah Bonjol. “Bonjol sedang dipersiapkan menjadi kawasan wisata terpadu di Pasaman,” sebutnya.
Kenapa Bonjol? “Karena Bonjol memiliki sejumlah spot wisata menarik, yang memang sudah ada sejak lama,” tuturnya. Sejumlah upaya pembenahan yang dilakukan, ucapnya, dimaksudkan agar semua destinasi yang ada punya nilai jual yang tinggi.
“Kita sudah melakukan studi kelayakan (feasibility study) tentang itu,” imbuh Wabup Sabar. Dari studi kelayakan itu, menurut Sabar, disimpulkan bahwa Bonjol memang layak dijadikan sebagai kawasan wisata terpadu.
Setelah studi kelayakan, sambung Sabar, juga dilakukan penyusunan master-plan. “Master-plan ini juga sudah selesai dibuat,” ujar Sabar menambahkan.
Langkah selanjutnya, menurut Sabar, melakukan eksekusi untuk mengimplementasikan konsep-konsep pengembangan yang telah dipersiapkan untuk itu. “Alhamdulillah, secara bertahap sudah mulai dilakukan.”
Dijelaskan Wabup Sabar, sejumlah langkah pembenahan yang sedang dilakukan adalah merencanakan pembangunan planetarium di tugu equator yang berlokasi di Bonjol. “Perencanaan fisiknya sedang dilakukan,” terangnya.
Rencana pembangunan planetarium itu, dijelaskan Wabup Sabar, mendapat dukungan dana dari APBD Sumbar. Dikatakan, dari Rp20 miliar dana yang diperlukan untuk itu, sebesar Rp12 miliar dari APBD Pasaman, sementara sisanya Rp8 miliar lagi dibantu APBD Sumbar.
“Sedang disiapkan destinasi wisata edukasi di tugu equator itu,” sambungnya. Kelak, menurut Wabup, diharapkan kawasan itu menjadi pusat untuk belajar astronomi, selain berwisata.
Rencana pembenahan tugu equator, menurut Sabar, pengembangan dari apa yang telah ada selama ini. Diterangkan, sebanyak dua kali dalam setahun yaitu di bulan Maret dan September dilakukan kegiatan menyaksikan fenomena alam yang disebut dengan titik kulminasi matahari.
Menurut Wabup, iven titik kulminasi matahari yang dihelat dua kali setahun diramaikan dengan kegiatan bertajuk PasEFes atau Pasaman Equator Festival dalam bentuk pertunjukan/pementasan seni budaya dan kuliner.
Yang juga tengah dilakukan, menurut Sabar, yaitu rancangan pembukaan jalan dari Suliki di Kabupaten Limapuluh Kota menuju Bonjol. “Langkah ini diharapkan akan memudahkan wisatawan mengunjungi Pasaman,” terangnya.
Bila perencanaan jalan itu selesai, diimbuhkan Wabup, akan menambah pintu masuk menuju Pasaman, termasuk Bonjol. “Karena ke depan Bonjol ajan menjadi magnet bagi wisatawan dengan sejumlah spot wisata yang menarik,” katanya.
LAPORAN KHUSUS
Wabup Sabar: Pariwisata akan Menjadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru di Pasaman
Rencana dan upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasaman di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) untuk mengembangkan sektor pariwisata bukankah tanpa sebab.
“Pariwisata itu akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, khususnya di Pasaman,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Pasaman Sabar AS di Lubuk Sikaping, ibukota Kabupaten Pasaman, belum lama ini.

Dijelaskan Wabup Sabar, Pasaman merupakan daerah agraris, yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan sumber ekonominya dari sektor pertanian dengan sejumlah sub-sektornya, terutama tanaman pangan dan perikanan.
“Kenapa pembangunan dan pengembangan pariwisata perlu, khususnya di Pasaman, tidak terlepas dari upaya untuk lebih mengembangkan sektor pertanian dimaksud,” terang Wabup. “Keduanya memiliki hubungan yang saling terkait.”
Dikatakan, sektor pariwisata yang tumbuh dan berkembang akan menjadi penghela bagi tumbuh dan berkembangnya sektor pertanian dengan sejumlah sub-sektornya. “Karena sebagian pariwisata yang dikelola berbasis pertanian,” tambah Wabup Sabar.
Kegiatan menanam dan menyabit padi di sawah, kegiatan memancing ikan di kolam pemancingan dan aneka kegiatan serupa lainnya, menurut Wabup Sabar, merupakan rangkaian kegiatan yang punya daya tarik yang tinggi bagi wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.
Sejalan dengan itu, tambah Wabup Sabar, juga memberi peluang bagi tumbuh dan berkembangnya usaha kecil, menengah dan mikro (UMKM) dan ekonomi kreatif. “Seperti adagium, yang menyebutkan bahwa di mana gula di sana dipastikan ada semut,” terang Sabar.
Sementara di bagian lain, terang Sabar, sebagian pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di daerah ini adalah masyarakat tani. “Dan sejumlah produk UMKM dan kuliner yang dipasarkan bahan bakunya adalah komoditas pertanian,” bebernya.
Tidak cuma sampai di sana, menurut Wabup Sabar, pariwisata yang tumbuh dan berkembang akan melibatkan banyak kegiatan usaha lainnya seperti hotel dan penginapan, jasa transportasi, kuliner dan lainnya.
Dengan kata lain, dijelaskan Wabup Sabar, sektor pariwisata yang tumbuh dan berkembang akan membuka kesempatan kerja baru dan peluang berusaha yang luas di tengah masyarakat.
“Intinya, kalau ingin perekonomian Pasaman bergerak dengan dinamis, kunci utamanya adalah gerakkan sektor pariwisata secara maksimal.” Dalam konteks kasus di Pasaman, menurut Sabar, pengembangan pariwisata sudah merupakan kebutuhan.
“Kalau pariwisata tumbuh dan berkembang niscaya akan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya. “Kalau kesejahteraan masyarakat membaik, imbasnya antara lain terjadinya peningkatan pendapatan asli daerah (PAD),” pungkasnya.
LAPORAN KHUSUS
Wabup Pasaman: Lubuk Sikaping akan Dijadikan sebagai ‘Kota Taman Berbunga’
Wabup Pasaman Sabar AS mengatakan, dalam konsep pengembangan kepariwisataan Pasaman, sudah dipetakan potensi kepariwisataan di masing-masing kawasan.
Menurut Wabup Sabar AS, kalau Bonjol sedang dipersiapkan untuk menjadi kawasan wisata terpadu di daerah itu, sejumlah kawasan lainnya juga mendapat perlakuan serupa, yang disesuaikan dengan potensi di masing-masing kawasan.

“Lubuk Sikaping yang menyandang status sebagai ibukota Kabupaten Pasaman, misalnya, dipersiapkan menjadi kota taman berbunga alias Lubuk Sikaping berbunga,” ungkap Wabup Sabar.
“Langkah ke arah sana sudah dimulai, yang dilakukan oleh dinas terkait di lingkup Pemkab Pasaman,” ujar Wabup Sabar di Lubuk Sikaping, ibukota Kabupaten Pasaman, belum lama ini.
Dikatakan, muka dari Simpang Maua sampai ke Simpang Pasar Lama di Kita Lubuk Sikaping sudah mulai ditanami aneka bunga. “Insya Allah kegiatan seperti ini akan terus berlanjut sehingga Lubuk Sikaping berbunga bersua pada tataran realitas,” kata Wabup Sabar.
Melengkapi status kota taman berbunga, menurut Wabup Sabar, di Lubuk Sikaping juga akan dibangun tempat peristirahatan alias rest area yang berlokasi di gapura, tidak jauh dari STAI Lubuk Sikaping.
“Kota ini juga akan dilengkapi dengan auditorium, yaitu sebagai tempat bagi anak nagari dan para pelajar untuk melakukan pementasan aneka kesenian tradisional, yang merupakan warisan dari nenek moyang,” ungkap Sabar.
Di luar Lubuk Sikaping, tepatnya di Panti, menurut Wabup Sabar, sedang dipersiapkan menjadi Taman Wisata Alam Rimbo Panti. “Karena potensi kawasan Rimbo Panti memang itu,” katanya.
Selain hutan alam dengan keragaman fuana dan floranya, menurut Wabup Sabar, Rimbo Panti juga memiliki sejumlah objek wisata menarik lainnya seperti pemandian air panas, dan lainnya.
Tidak hanya sampai di sana, menurut Wabup Sabar, pengembangan sektor kepariwisataan di Pasaman juga dengan menjadikan nagari-nagari yang ada sebagai objek wisata, dusesuaikan dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing nagari.
“Banyak nagari di Pasaman memiliki objek atau kegiatan pariwisata menarik, yang punya nilai jual tinggi,” katanya. Makanya, kata Wabup, Pemkab Pasaman mendorong pemerintahan nagari untuk mengolah dan mengembangkan objek wisata yang dimiliki.
Wabup lalu merinci sejumlah nagari di Pasaman yang memiliki objek atau kegiatan wisata yang bisa diandalkan seperti Nagari Langsek Kadok, Padang Gelugur, Lubuk Godang, Surau Lamo, Sundata, dan lainnya.
LAPORAN KHUSUS
Pengembangan Pariwisata Pasaman, Wabup: Yang Terpenting Uang Beredar Dulu di Masyarakat
Wabup Pasaman Sabar AS menolak bicara soal pengembangan sektor kepariwisataan dihubungkan dengan target-target jangka pendek yang harus dicapai.
Semisal berapa target pendapatan asli daerah (PAD) yang harus dicapai dalam rentang waktu tertentu. “Soal semacam itu terlalu dini untuk dibicarakan,” kata Wabup Sabar kepada fajarharapan.id di Lubuk Sikaping, ibukota Kabupaten Pasaman, belum lama ini.

Bagi Wabup Sabar, soal yang paling krusial dari pengembangan sektor kepariwisataan adalah bagaimana uang beredar dan berputar sebanyak-banyaknya di tengah masyarakat sebagai dampak menggeliatnya sektor kepariwisataan.
Bila uang banyak beredar dan berputar di tengah suatu komunitas tertentu, menurut Wabup, akan membuat roda ekonomi masyarakat berputar dengan dinamis, dan ekonomi masyarakat pun menjadi bergairah.
“Sekarang saja dampak seperti itu sudah mulai dirasakan,” kata Sabar. Bertumbuhannya hotel, penginapan home stay di sejumlah tempat, termasuk usaha kuliner, merupakan bukti bahwa bergairahnya sektor pariwisata sudah mulai menimbulkan dampak.
“Fungsi pariwisata itu adalah pengungkit untuk menggerakkan sektor-sektor lainnya,” sebut Wabup. “Bila sektor pariwisata bergairah, maka praktis akan membuat sektor-sektot lain akan ikut bergairah,” bebernya.
Bila banyak sektor ekonomi tumbuh dan berkembang, sebagai dampak dari majunya sektor pariwisata, menurut Wabup Sabar, maka akan terjadi perbaikan perekonomian masyarakat secara signifikan.
“Kalau sebagian besar kondisi perekonomian masyarakat sudah membaik, soal berapa kontribusi sektor pariwisata untuk PAD Pasaman tidak lagi merupakan masalah yang terlalu berat untuk dipikirkan,” tambahnya.
“Sekali lagi, target utama yang harus dicapai dari pengembangan sektor pariwisata adalah bagaimana uang beredar sebanyak-banyaknya di masyarakat,” katanya. “Untuk kondisi saat ini, sepertinya target seperti itu sudah mulai tercapai.”
Pada bagian lain Wabup Sabar menjelaskan, pengembangan sektor kepariwisataan di Pasaman mendapat dukungan yang luas dari para tokoh masyarakat. “Sepertinya tidak ada alasan bagi para tokoh masyarakat untuk mendukung,” katanya.
Masyarakat dari semua elemen pun, menurut Wabup, juga memberikan dukungan. “Alhamdulillah, masyarakat sudah mulai satu persepsi dalam menyambut pengembangan kepariwisataan,” katanya.
LAPORAN KHUSUS
Kalau Pariwisata Pasaman Maju, Ahdi: Banyak Sektor yang akan Menikmati Imbasnya
Begitu getolnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasaman di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) berupaya membangun dan memajukan sektor kepariwisataan, sebenarnya apa yang dicari?
“Banyak,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Pasaman Ahdi Susanto S.Pd. M.Pd, di Lubuk Sikaping, ibukota Kabupaten Pasaman, belum lama ini.

Mengibaratkan dengan sungai, menurut Ahdi, kemajuan kepariwisataan bisa menjadi hulu untuk menggerakkan sejumlah sektor lainnya, yang sebagian besar di antara sektor-sektor itu bersentuhan langsung dengan masyarakat banyak.
“Kalau pariwisata hidup dan berkembang, maka sejumlah sektor lainnya juga ikut berkembang.” Ahdi menunjuk contoh, usaha home industry akan memiliki pasar yang luas, yang memungkinkan untuk tumbuh dan berkembang.
“Usaha kuliner, restoran, penginapan dan lainnya juga akan ikut berkembang,” sebutnya. Termasuk para penggiat seni dan budaya akan mendapatkan wahana yang semakin luas untuk berkreasi dan berkiprah.
Bahkan, menurut Ahdi, para pemuda –termasuk dari kalangan terdidik– yang sejauh ini belum mendapatkan pekerjaan, bisa menjadi tenaga yang diandalkan untuk mengelola sejumlah kegiatan di sektor kepariwisataan.
Aktifitas petani, menurut Ahdi, tidak lagi sekadar menghasilkan komoditas karena bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ia mencontohkan kegiatan memancing di kolam, yang diyakini tidak ditemukan di negeri asal wisatawan.
“Dipastikan akan banyak pihak yang diuntungkan kalau pariwisata suatu daerah maju,” tambahnya. Tapi diingatkan Ahdi, menanamkan investasi di sektor pariwisata membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan umpan baliknya.
“Kalau ditanya umpan balik pembangunan kepariwisataan berupa pendapatan asli daerah (PAD) satu misal dibandingkan dengan investasi yang sudah ditanam, untuk kondisi saat ini diakui belum seimbang,” sebut Ahdi lagi.
“(Pembangunan pariwisata) ini merupakan investasi jangka panjang,” ungkap Ahdi. Apa yang dibangun dan dikerjakan untuk memajukan pariwisata hari ini, bebernya, hasilnya mungkin baru bisa dinikmati dua atau tiga tahun ke depan.
Kalau Pemkab Pasaman getol memajukan pariwisata, menurut Ahdi, selain mengharapkan efek jangka panjang yang akan dinikmati oleh daerah dan masyarakat, “Karena sejatinya Pasaman punya sejumlah potensi wisata yang bisa dibanggakan,” katanya.
Kenapa sejumlah potensi itu belum terlalu mengemuka, Ahdi menyebut pembangunan sektor kepariwisataan di Pasaman masih pada tahap pembangunan pondasi. Promosi untuk sejumlah andalan kepariwisataan di daerah ini juga masih kurang.
“Langkah kita baru di tapakan awal,” sambungnya. “Tapi ini tidak main-main.” Dijelaskan Ahdi, dari 10 program prioritas di RPJMD Pasaman, salah satu di antaranya adalah sektor kepariwisataan.
Dengan kata lain, dijelaskan Ahdi, apakah duet Bupati Benny Utama dan Wakil Bupati Sabar AS dinilai sukses atau tidak dalam membangun Pasaman, “Salah satu tolak ukurnya adalah pembangunan pariwisata,” kata Ahdi. (spa/adv)






