Kotim  

Wabup Kotim Irawati Salurkan Bantuan Banjir ke Desa Hanjalipan

Sampit, fajarharapan.id – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Irawati, turun langsung meninjau banjir sekaligus menyalurkan bantuan kepada warga terdampak di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Jumat (27/9/2025). Kehadiran orang nomor dua di Kotim itu disambut hangat oleh masyarakat yang sudah hampir dua pekan terdampak banjir.

Dalam kunjungannya, Irawati menyalurkan berbagai kebutuhan dasar berupa sembako, obat-obatan, dan peralatan darurat. Bantuan ini diharapkan mampu meringankan beban masyarakat yang aktivitasnya terganggu akibat banjir. “Saya menyadari kondisi masyarakat saat ini berat, karena itu bantuan ini kami salurkan secepat mungkin agar kebutuhan pokok warga tetap terpenuhi,” ucapnya.

Tidak hanya menyerahkan bantuan, Irawati juga menyempatkan diri berdialog langsung dengan warga. Ia ingin mengetahui kebutuhan mendesak lain yang diperlukan serta mendengar keluhan warga terkait dampak banjir. “Semoga kehadiran ulun membawa semangat dan harapan baru bagi masyarakat Desa Hanjalipan,” imbuhnya.

Menurutnya, pemerintah daerah terus berupaya berkoordinasi dengan instansi terkait agar penanganan banjir berjalan lebih efektif. Hal ini mencakup upaya penyediaan bantuan darurat, pemantauan kesehatan masyarakat, hingga antisipasi dampak jangka panjang jika banjir berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menjelaskan banjir di Desa Hanjalipan terjadi sejak 14 September 2025. Penyebab utamanya adalah curah hujan tinggi yang memicu meluapnya air Sungai Mentaya, ditambah pasang air sungai yang cukup tinggi. Lokasi desa yang berada di bantaran sungai membuat wilayah itu rawan genangan.

“Ketinggian air sempat mencapai 30-60 sentimeter pada puncaknya, yakni 17 September lalu. Setelah itu mulai surut, tapi setiap kali air pasang, genangan kembali naik,” jelas Multazam. Ia menyebutkan, banjir kali ini merupakan salah satu yang cukup lama terjadi di desa tersebut.

Desa Hanjalipan sendiri terdiri dari empat RT dengan sekitar 460 rumah. Meski sebagian besar rumah berbentuk panggung sehingga masih aman, namun lima rumah dilaporkan sudah dimasuki air. Selain itu, fasilitas umum seperti sekolah dasar terpaksa menghentikan kegiatan belajar sementara karena akses terendam.

Untuk fasilitas kesehatan, puskesmas pembantu (pustu) masih dapat beroperasi karena bangunannya berupa rumah panggung. Kendati demikian, Multazam menekankan perlunya perhatian lebih terkait kesehatan masyarakat, mengingat wilayah banjir rentan penyakit kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.

Dampak banjir juga membuat mobilitas warga terbatas. Sehari-hari, masyarakat terpaksa menggunakan sampan atau perahu untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain di dalam desa. Bahkan untuk menuju ibu kota kecamatan maupun kabupaten, warga harus lebih dulu menyeberang ke Desa Jemaras di Kecamatan Cempaga, lalu melanjutkan perjalanan darat sejauh 2,5 hingga 3 jam.

Meski kondisi cukup sulit, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus hadir bersama masyarakat. Dengan kolaborasi lintas instansi dan dukungan pemerintah provinsi maupun pusat, diharapkan banjir di Desa Hanjalipan bisa segera teratasi, dan warga dapat kembali beraktivitas secara normal.(Av/M)