Sawahlunto – Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, mencatat tujuh agenda besar yang digelar sepanjang April hingga Agustus 2025 berhasil memberi dampak ekonomi hingga Rp1,6 miliar.
Capaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa visi “Sawahlunto Maju” mampu diwujudkan melalui kegiatan yang adaptif, responsif, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Sawahlunto, Tatang Sumarna, menyampaikan bahwa total pengunjung dari tujuh kegiatan tersebut mencapai 29.250 orang, dengan melibatkan 551 pelaku UMKM.
“Dari omzet Rp1,636 miliar, UMKM lokal memperoleh Rp1,049 miliar, sedangkan pelaku usaha dari luar daerah mencatat Rp586 juta,” ujarnya di Sawahlunto, Selasa (2/9).
Dari berbagai kegiatan, Turnamen Sepak Bola Wali Kota Cup I (23 Juni–15 Juli) menjadi penyumbang penonton terbanyak, yakni 15.000–15.500 orang. Ajang ini berhasil mencatat omzet UMKM lokal sebesar Rp297 juta.
Berikut rincian jumlah pengunjung dan estimasi perputaran ekonomi dari sejumlah event lainnya:
Sawahlunto Maju Manang Road Race (1 Juni): 5.500–6.000 pengunjung
Manyilau Fest (4 April): 4.500–5.000 pengunjung
Pertemuan Istri Kepala Daerah (15 Juli): 150–200 peserta
Simposium Internasional We Are Site Managers (25–27 Agustus): 100–150 peserta
Festival Tangsi (25–27 Agustus): 2.500–3.000 pengunjung
Kota Arang Road Race (31 Agustus): 1.500–2.000 pengunjung
Selain perputaran ekonomi di sektor UMKM, sektor akomodasi juga mencatat kontribusi besar. Rumah makan di sekitar lokasi event memperoleh omzet Rp108 juta, sementara sektor penginapan mencapai Rp222 juta dengan tingkat keterisian penuh: 235 kamar hotel, 19 kamar non-hotel, serta 617 homestay.
Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, menegaskan bahwa pelaksanaan berbagai event tidak sekadar menjadi ajang hiburan, melainkan juga motor penggerak ekonomi lokal. “Mulai dari UMKM, rumah makan, hingga homestay semuanya ikut merasakan manfaat. Inilah semangat hidup menghidupi,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemko akan terus melakukan evaluasi untuk menyempurnakan pengelolaan event agar dampak ekonominya semakin luas.
“Warisan budaya bukan hanya dijaga, tetapi juga dimanfaatkan agar memberi kehidupan. Dari budaya kita raih kebanggaan, dari event kita dapatkan kesejahteraan,” tutupnya. (des*)






