Padang Pariaman – Banjir memang telah surut, tetapi luka di Hunian Sementara (Huntara) Asam Pulau Nagari Anduriang, Padang Pariaman, Sumatera Barat belum benar-benar kering. Di balik dinding papan yang rapuh dan lantai yang masih lembap, warga bertahan dengan sisa tenaga dan harapan.
Pada Rabu (25/02/2026) siang itu, suasana mendadak berubah ketika bantuan dari Paten Mekar Tani tiba. Membelah keheningan dengan secercah kepastian bahwa mereka tidak dilupakan.
Di hadapan warga yang terdampak, Wakil Bupati Padang Pariaman, Rahmat Hidayat, berdiri menyampaikan apresiasi. Ucapannya sederhana, namun sarat makna.
Ia kembali mengingatkan, dukungan seperti ini adalah kekuatan besar bagi Padang Pariaman.
Rahmat Hidayat menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus merangkul semua elemen masyarakat, organisasi, dan dunia usaha agar percepatan pemulihan benar-benar dirasakan hingga ke Huntara.
“Di tengah keterbatasan pemerintah, uluran tangan dari komunitas dan dunia usaha adalah nafas tambahan bagi masyarakat untuk bangkit lebih cepat dari keterpurukan,” kata Wabup.
Satu per satu bantuan diturunkan. 30 dus mie instan, 50 karung beras ukuran 5 kilogram, teh, kopi, hingga 100 dus air minum. Bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa. Namun bagi ibu-ibu di Huntara Asam Pulau, itu adalah jaminan dapur tetap mengepul esok pagi.
Bagi para ayah yang kehilangan banyak hal akibat banjir, itu adalah penguat untuk tetap tegar di hadapan keluarga.
Ketua Paten Mekar Tani Padang Pariaman, Ari Irpendi Putra, menegaskan bahwa aksi ini bagian dari gerakan peduli bencana Sumatera Barat.
Ia tak berbicara panjang, namun pesannya jelas. Solidaritas tak boleh berhenti pada simpati. Harus ada aksi nyata, harus ada keberanian untuk hadir langsung di tengah penderitaan.
Turut hadir Kepala Pelaksana BPBD Emri Nurman, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Zahirman, serta jajaran pemerintah daerah lainnya.
Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tetapi penegasan bahwa proses pemulihan pascabencana tidak bisa ditunda dan tidak boleh setengah hati.
Di Asam Pulau, warga mungkin masih tinggal di bangunan sementara. Namun dari bantuan yang datang dan tangan-tangan yang terulur, tumbuh keyakinan bahwa masa sulit ini bukan akhir cerita.
Bencana memang memporak-porandakan, tetapi solidaritas membuktikan. Padang Pariaman tidak pernah menyerah, dan warganya tidak pernah dibiarkan sendiri.(bay).






