Padang Pariaman – Langit mendung belum lama pergi ketika rumah sederhana milik Ibu Beyok di Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto, Padang Pariaman, Sumatera Barat, akhirnya kembali berdiri kokoh.
Dulu, bangunan itu nyaris roboh setelah dihantam pohon tumbang saat hujan deras mengguyur Padang Pariaman. Kini, dindingnya tegak, atapnya tak lagi bocor. Di sanalah tiga jiwa penyandang disabilitas mencoba kembali merajut harapan yang sempat patah.
Tak banyak yang tahu, perubahan itu bukan lahir dari anggaran negara. Ia tumbuh dari ketukan hati dan lobi panjang seorang perempuan. Ia itu adalah seorang Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Hj. Nita Azis.
Dengan inisiatif pribadi, ia menghubungi sahabat, kolega, hingga komunitas lintas daerah. Mengajak mereka bergerak membantu warga yang rumahnya rusak dan tak layak huni.
“Rumah ini kami bantu bedah dengan anggaran sebesar Rp73.475.000,- Semoga bisa menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan layak bagi Ibu Beyok dan kedua anaknya,” ujar Nita Azis saat meninjau langsung hasil renovasi tersebut beberapa waktu lalu. Kalimat itu sederhana, namun menyimpan kerja sunyi yang tak sedikit.
Kembali langkah Nita Azis, pada Sabtu (28/2/2026), menyusuri jalan kampung. Kali ini ia mendatangi rumah Irma Nurnalis di Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging.
Ia tak hanya melihat kondisi bangunan yang memprihatinkan, tetapi juga menyerahkan bantuan senilai Rp26.060.000 untuk memulai perubahan. Di sudut rumah yang mulai lapuk, harapan baru kembali ditanam.
Gerakan ini tak berhenti pada satu pintu. Di Nagari Padang Bintungan, Kecamatan Nan Sabaris, rumah Elvia Rosbar turut direnovasi dengan bantuan Rp25 juta dari Emersia Group.
Sementara di Sungai Buluh Timur, Kecamatan Batang Anai, Agustina menerima dukungan serupa sebesar Rp25 juta. Proses pengerjaan masih berlangsung, namun denyut gotong royong sudah terasa.
Semua bantuan itu mengalir dari jejaring kepedulian. Diantaranya Titik Soeharto, Lia Wibowo, Diah Uhlmann & Friends, Riana dari Lampung, Ferawati, Komunitas Ikatan Alumni Xaverius (IKAXA), Lintas Alumni UNPAR, Indo Jalito Peduli, TP PKK Solok Selatan, LCJM Movast Jakarta, Ibu-ibu AZKA Jakarta, hingga Emersia Peduli.
Mereka mungkin berbeda latar, namun dipertemukan oleh empati yang sama terhadap warga Padang Pariaman.
Di tengah hiruk-pikuk wacana bantuan sosial yang kerap menuai polemik, langkah Nita Azis justru menghidupkan kembali makna solidaritas.
Ia menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya kepada para donatur yang telah menunjukkan kepedulian nyata.
“Semua bantuan ini berasal dari kebaikan hati para sahabat dan donatur. Semoga menjadi amal kebaikan dan membawa manfaat besar bagi masyarakat,” tuturnya.
Dari rumah ke rumah, gerakan ini seperti menegaskan satu hal. Ketika negara belum sempat mengetuk, kemanusiaan lebih dulu datang menyapa.(bay).






