Kotim, fajarharapan.id – Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 55 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tampil inovatif dengan menerapkan Kurikulum Plus, sebuah sistem pembelajaran berbasis teknologi yang memberi kesempatan bagi siswa untuk mengulang pelajaran hingga benar-benar memahami materi dan mencapai standar nilai maksimal.
Kepala SRT 55 Kotim, Nikkon Bhastari, menjelaskan bahwa Kurikulum Plus memadukan kurikulum nasional dengan pendekatan pembelajaran modern berbasis Learning Management System (LMS). Sistem ini memungkinkan siswa belajar mandiri sekaligus termotivasi untuk terus memperbaiki hasil belajarnya.
“Dalam sistem kami, standar minimal nilai bukan lagi 70 atau 80, tapi 100. Kalau belum mencapai itu, siswa bisa terus mengulang pelajaran sampai betul-betul menguasai. Jadi mereka tidak hanya sekadar lulus, tapi memahami materi secara menyeluruh,” ujar Nikkon di Sampit, Rabu (5/11/2025).
Ia menambahkan, Kurikulum Plus sejatinya tetap berlandaskan pada kurikulum nasional yang ditetapkan pemerintah. Namun, SRT 55 memperkaya kurikulum tersebut dengan tambahan mata pelajaran unggulan, metode pengajaran interaktif, serta penilaian berbasis kompetensi. Tujuannya agar lulusan sekolah ini memiliki keunggulan akademik dan karakter yang lebih kuat dibanding standar pendidikan biasa.
Dalam penerapannya, SRT 55 menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS), menggantikan sistem paket seperti di sekolah umum. Melalui SKS, siswa dapat menempuh pendidikan sesuai kemampuan masing-masing. Mereka yang unggul bisa naik kelas lebih cepat, sementara siswa yang membutuhkan waktu lebih banyak dapat terus belajar hingga mencapai target.
“Namun tentu ada batas usia untuk tiap jenjang. Misalnya, di tingkat SMA maksimal usia siswa adalah 24 tahun. Jadi meskipun bisa mengulang, tetap ada pendampingan agar mereka bisa menyelesaikan studi tepat waktu,” jelas Nikkon.
Sebagai bagian dari pendekatan personalisasi pendidikan, SRT 55 juga memperkenalkan Tes Talent DNA, yakni metode untuk memetakan bakat dan potensi setiap siswa. Hasil tes ini menjadi acuan dalam pembimbingan karier, agar setiap siswa dapat diarahkan sesuai minat dan kemampuannya.
“Kalau ada murid yang berbakat memasak, kami bantu menyalurkan potensinya agar bisa menjadi koki profesional. Kalau dia unggul di bidang akademik, kami arahkan ke universitas terbaik. Jadi setiap anak punya jalur suksesnya masing-masing,” ujar Nikkon.
Selain berfokus pada kualitas akademik, SRT 55 juga bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan dan industri guna memperluas peluang bagi lulusan. Sekolah ini berupaya agar setiap siswa tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga siap menghadapi dunia kerja dan kehidupan nyata.
Penerapan Kurikulum Plus di SRT 55 Kotim menjadi salah satu langkah nyata dalam transformasi pendidikan di daerah, di mana sistem belajar tidak lagi berorientasi pada nilai semata, melainkan pada proses memahami, beradaptasi, dan mengembangkan potensi diri secara maksimal.(Av/M)






