Sampit, fajarharapan.id – Program optimasi lahan (oplah) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tahun 2025 tercatat telah terlaksana sepenuhnya. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) setempat memastikan realisasi mencapai 100 persen dari target seluas 1.676 hektare.
Kepala DPKP Kotim, Sepnita, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian ini. Menurutnya, pelaksanaan oplah tahun ini berjalan lancar tanpa hambatan berarti. “Alhamdulillah, untuk 2025 target oplah sudah tercapai 100 persen sesuai harapan,” katanya di Sampit, Senin (29/9/2025).
Sepnita menjelaskan, oplah merupakan program nasional dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang ditujukan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan pertanian yang belum optimal. Tujuannya bukan hanya memperbaiki kualitas lahan, tetapi juga mendorong produktivitas hingga memungkinkan petani melakukan panen lebih dari dua kali setahun.
Berbagai langkah dilakukan dalam program ini, mulai dari perbaikan tata air dan drainase, perbaikan galangan sawah, hingga penerapan teknologi pertanian modern. “Intinya, oplah adalah upaya intensifikasi pertanian. Sawah yang ada kita maksimalkan agar hasil panen lebih baik,” jelasnya.
Pada tahun sebelumnya, Kotim mendapat target oplah 3.528 hektare. Namun, sekitar 510 hektare belum sempat direalisasikan dan dialihkan ke 2025. Dengan target baru 1.676 hektare, seluruhnya kini telah rampung dikerjakan.
Realisasi itu tersebar di tujuh kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Pulau Hanaut 396 hektare, Mentaya Hilir Selatan 159 hektare, Telaga Antang 68 hektare, Teluk Sampit 857 hektare, Kota Besi 40 hektare, Baamang 35 hektare, dan Mentawa Baru Ketapang 121 hektare. “Rata-rata sawah yang dioptimalkan bisa menghasilkan tiga kali panen dalam setahun, sebelumnya hanya dua kali,” tambah Sepnita.
Dalam program ini, pemerintah pusat juga menyalurkan bantuan benih padi bagi petani. Pendanaan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui skema tugas pembantuan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi, sementara kabupaten berperan sebagai fasilitator lokasi.
Meski tidak merinci besarannya, Sepnita memastikan dana yang digelontorkan cukup untuk mendukung seluruh target yang ditetapkan. “Tugas kami memastikan program terlaksana di lapangan, sementara teknis anggaran menjadi kewenangan pusat dan provinsi,” ujarnya.
Ia berharap, hasil dari program oplah ini mampu mendongkrak sektor pertanian Kotim, sekaligus mendorong kemandirian pangan daerah. “Jika lahan-lahan yang sebelumnya bermasalah bisa dioptimalkan kembali, kita optimis pertanian Kotim makin maju dan dapat berkontribusi pada swasembada pangan di Bumi Habaring Hurung,” tutupnya.(Av/M)






