Padang Pariaman – Maraknya tindak kejahatan yang menggemparkan masyarakat Padang Pariaman, Sumatera Barat pada akhir-akhir ini menjadi sorotan serius Bupati H. John Kenedy Azis (JKA).
Ia menilai, berbagai kasus kekerasan ekstrem, narkoba, hingga pelecehan seksual merupakan gejala dari makin tergerusnya nilai moral dan spiritual di tengah masyarakat.
Dalam pengarahan saat melantik 434 pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) di lingkungan Pemda Padang Pariaman, Kamis (26/6/2025), di Hall Kantor Bupati, Parit Malintang, JKA mengingatkan bahwa penyebab utama munculnya penyakit masyarakat (pekat) adalah krisis pemahaman terhadap ajaran agama dan merosotnya kesadaran etika sosial.
“Ini bukan hanya tanggung jawab Bupati, polisi, atau OPD, tapi tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat,” tegas JKA.
Bupati JKA mengaku prihatin dengan meningkatnya kasus kriminal sadis yang mencoreng nama baik daerah, termasuk pembunuhan mutilasi oleh seorang pemuda bernama Wanda (26), warga Kasang, Batang Anai, yang menewaskan tiga gadis remaja secara keji.
“Saya sampai ditelepon kawan-kawan dari Belanda dan Jakarta, mereka bertanya, ‘Apa yang sedang terjadi di Padang Pariaman?’ Nama kita viral, tapi dalam konteks yang sangat menyedihkan,” ucapnya.
Selain kasus Wanda, JKA juga menyinggung pembunuhan Nia Kurnia Sari di Kayu Tanam, kejahatan narkoba, hingga pemerkosaan anak di bawah umur oleh pelaku lanjut usia. Semua itu, menurutnya, adalah bentuk nyata dari krisis nilai dan lemahnya kontrol sosial.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Padang Pariaman bersama Forkopimda, ninik mamak, alim ulama, bundo kanduang, serta organisasi kepemudaan seperti KNPI, telah menggelar rapat koordinasi guna membahas solusi.
Beberapa kebijakan langsung diterapkan, termasuk penutupan kafe ilegal dan pembatasan jam operasional orgen tunggal hingga pukul 23.30 WIB di berbagai kegiatan masyarakat.
JKA juga mengajak seluruh aparatur sipil negara, termasuk para PPPK yang baru dilantik, untuk menjadi agen perubahan dan teladan di tengah-tengah masyarakat.
“Ramaikan masjid dengan lantunan ayat suci, hidupkan majelis taklim, dan bangun keluarga dari atas sajadah. Ini adalah pondasi untuk membentengi generasi muda dari kehancuran moral,” ujarnya.
Sebagai contoh, ia menyebut kehidupannya bersama keluarga yang selalu menjaga kebersamaan dalam sholat berjamaah, serta menjaga anak dan cucunya dari pengaruh negatif gawai.
“Cucu saya bahkan tak kenal apa itu HP. Karena kalau tidak digunakan dengan bijak, HP justru bisa menjadi pintu masuk maksiat,” tandasnya.(bay).






