Padang, fajarharapan.id – Rentetan gempa bumi kembali mengguncang wilayah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Selasa (8/4/2025) sore. Waspada gempa. Dalam waktu singkat, tiga gempa dangkal terjadi secara berurutan. Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk tetap waspada, terutama di wilayah rawan aktivitas tektonik seperti Sumbar.
Waspada gempa. Guncangan awal tercatat pada pukul 17.23 WIB dengan magnitudo 4,2 dan kedalaman hanya satu kilometer. Dua gempa susulan berkekuatan 2,4 dan 2,6 magnitudo menyusul tak lama kemudian. BMKG menyebut bahwa Segmen Suliti, bagian dari Sesar Sumani, menjadi penyebabnya.
Jenis gempa ini tergolong berbahaya karena termasuk dalam kategori gempa dangkal. BMKG mengklasifikasikan gempa berdasarkan kedalaman: dangkal (kurang dari 60 km), menengah (60–300 km), dan dalam (lebih dari 300 km). Karena lokasinya sangat dekat dengan permukaan, masyarakat di daerah rawan harus tetap waspada gempa, walau magnitudonya tidak terlalu besar.
USGS menjelaskan bahwa energi gempa dangkal hampir sepenuhnya sampai ke permukaan tanpa banyak berkurang, sehingga dampaknya terasa lebih kuat. Kondisi ini membuat pentingnya waspada gempa di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan struktur bangunan yang belum tahan gempa.
Sejarah Indonesia menunjukkan banyak korban jiwa akibat gempa dangkal, seperti yang terjadi di Yogyakarta (2006) dan Cianjur (2022). Guncangan di Solok bahkan terasa hingga ke Kota Solok, meskipun belum ada laporan kerusakan besar. Tetaplah waspada gempa, sebab dampak sering kali tidak terduga.
Letak geografis turut memengaruhi dampak gempa. Jika gempa terjadi di darat seperti di Solok, kerusakan bisa meluas, sementara di laut, seperti di Pangandaran (2006), tsunami bisa terjadi. Oleh karena itu, waspada gempa tidak hanya berlaku bagi masyarakat pesisir, tapi juga yang tinggal di daratan.
Kendati gempa menengah dan dalam dianggap lebih “aman”, kondisi tanah lunak bisa memperkuat guncangan lewat efek amplifikasi. Ini menambah alasan bagi semua pihak untuk terus waspada gempa, terutama di area dengan struktur tanah rentan.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, memastikan gempa di Solok tidak memicu tsunami. Namun ia mengingatkan masyarakat untuk menjauhi bangunan retak dan tetap waspada gempa, terutama terhadap potensi gempa susulan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Sejarah juga mencatat kejadian seperti gempa Ambon 2017 (magnitudo 6,2, kedalaman 10 km) yang menimbulkan kerusakan parah. Gempa pertama di Solok yang sangat dangkal ini menjadi bukti bahwa kita harus selalu waspada gempa, meskipun skalanya tampak kecil.(Ab)






