Padang Pariaman — Dalam pepatah Minang dikatakan, “Joki harus turun duluan sebelum memandikan kuda.” Ungkapan ini tak sekadar peribahasa, tapi benar-benar diterapkan oleh Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, H. John Kenedy Azis (JKA), saat menutup event Pacu Kuda Bupati Cup 2025 di Duku Banyak, Balah Aie, VII Koto, pada Minggu sore, 6 April 2025.
Acara telah rampung. Ribuan pasang mata telah pulang membawa kesan dan kebanggaan. Namun di tengah arena yang mulai lengang, Bupati JKA malah memulai aksi yang tak banyak dilakukan pejabat, ia bersama Panitia ikut turun langsung memungut sampah sisa pengunjung.
Tak sendiri, JKA bersama jajarannya dan masyarakat setempat memungut limbah plastik, bungkus makanan, dan berbagai sisa lainnya yang berserakan usai dua hari kemeriahan pacuan kuda.
Agaknya, JKA berprinsip bahwa kita ingin lingkungan bersih, jangan menunggu orang lain. Kita harus mulai sendiri. Itulah ajaran kita di ranah Minang, dan itu juga nilai Islam bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Ia terus melangkah sambil terus bergerak di tengah rumput lapangan.
Aksi kecil yang sarat makna ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak hanya soal perintah, tapi juga keteladanan. JKA yang pernah lama tinggal di Amerika Serikat, membawa semangat budaya K3 (Kebersihan, Keindahan, dan Keamanan) yang ketat diterapkan di luar negeri.
Pengalaman penulis pernah ke luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura, buang sampah sembarangan bisa berujung denda ratusan hingga ribuan ringgit atau dolar.
Barangkali, JKA pun bercita-cita menanamkan budaya disiplin bersih itu ke tengah masyarakat Padang Pariaman.
Ia mumgkin berpendapat bahwa negara lain bisa tegas menjaga kebersihan, kita di kampung halaman juga bisa. Dimulai dari hal sederhana, seperti memungut sampah sendiri, bukan menunggu petugas.
Budaya bersih ini bukan hal baru di Sumatera Barat. Di masa lalu, Bupati Kolonel (Inf) Anas Malik dengan mencetuskan perubahan besar untuk kawasan Pantai Pariaman yang sempat dijuluki “WC terpanjang di dunia”. Karena, kebiasaan buang hajat dan buang sampah sembarangan.
Kini, kawasan itu telah berubah menjadi Taman Anas Malik yang bersih dan indah, ramai dikunjungi saat Lebaran. Itupun kemudian terus dibenahi sepanjang Pantai semasa kepemimpinan oleh Muhklis Rahman, sebagai Walikota Pariaman dua periode 2008-2018.
Langkah Bupati JKA hari itu bukan sekadar membersihkan lapangan, tapi juga menyampaikan pesan moral dan ajakan. Sebuah gerakan yang diharapkan menular, menjadi budaya, dan mengakar di tengah masyarakat.
Sebab, Membangun Padang Pariaman yang Maju dan Sejahtera (MERATA), bukan hanya soal jalan mulus dan gedung megah. Tak kalah pentingnya, juga membangun soal karakter, nilai, dan kebiasaan baik yang dibentuk bersama, dari hal-hal kecil yang berdampak besar dalam kehidupan ini.(bay).






