Angkutan Pedati di Pariaman Tinggal Kenangan, Gerobak Dijadikan ‘Museum’

Gerobak Pedati
Gerobak Pedati

Pariaman, fajarharapan.id – Angkutan pedati, sebuah sarana transportasi tradisional yang telah menjadi bagian dari sejarah dan budaya daerah, kini hanya tinggal kenangan. Perlahan namun pasti, angkutan pedati yang dulu ramai melintasi jalan-jalan pedesaan, kini menghadapi tantangan yang sulit diatasi.

Dalam beberapa dekade terakhir, angkutan pedati telah digantikan oleh kendaraan bermotor modern seperti mobil dan sepeda motor. Perubahan ini dapat dilihat sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Ajo Rial salah seorang warga Padang Laring, Kenagarian IV Koto Aur Malintang Utara, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman kepada fajarharapan.id, Selasa 13 Juni 2023 menyebutkan, padati kini tinggal kenangan karena sudah beralihnya teknologi.

Biasanya warga menggunakan jasa padati untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan. Tapi beralihnya teknologi semuanya dan perkembangan zaman maka, transportasi menggunakan mesin.

“Bagaimana lagi, semuanya sudah beralih zaman, sahingga kita juga beralih profesi juga, pedati yang jadi teman hidup kini dijadikan museum,” ujar Ajo Rial mengenang kisahnya menjadi seorang driver padati.

Pemilik dan pengemudi pedati menghadapi berbagai kesulitan dalam menjalankan usaha mereka. Permintaan terhadap angkutan pedati semakin menurun seiring dengan meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor yang lebih cepat dan efisien.

Banyak faktor yang berkontribusi terhadap pengurangan penggunaan angkutan pedati. Faktor utama adalah perubahan preferensi dan kebutuhan transportasi masyarakat. Masyarakat modern cenderung memilih kendaraan pribadi yang lebih praktis dan nyaman.

Selain itu, adanya peraturan lalu lintas yang semakin ketat dan pembangunan infrastruktur yang lebih memprioritaskan kendaraan bermotor juga menjadi hambatan bagi angkutan pedati. Kendaraan bermotor yang lebih cepat dan lebih nyaman telah mengambil peran utama dalam memenuhi kebutuhan transportasi sehari-hari.

Bagi para pemilik pedati, penurunan permintaan telah berdampak signifikan pada mata pencaharian mereka. Banyak di antara mereka yang terpaksa beralih profesi atau mencari sumber penghasilan alternatif.

Meskipun demikian, beberapa upaya dilakukan untuk melestarikan budaya angkutan pedati. Beberapa daerah atau komunitas lokal berusaha menjaga warisan budaya ini dengan mempertahankan penggunaan pedati sebagai objek wisata atau dalam perhelatan budaya tertentu.

Meskipun angkutan pedati kini tinggal kenangan, penting untuk menghormati dan mengenang nilai budaya yang diwakili olehnya. Angkutan pedati merupakan bagian penting dari identitas budaya daerah dan menjadi saksi bisu dari sejarah perkembangan transportasi.

Dalam menghadapi perubahan zaman, adalah penting untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dengan pelestarian warisan budaya. Semoga angkutan pedati tetap hidup dalam ingatan kita sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah masyarakat lokal.(ab)