Kerinci – Yusuf Kalla baru saja meninggalkan Kerinci, Jambi setelah merayakan HUT RI ke-79 bersama istri di proyek besar miliknya. Proyek tersebut, yang dimiliki oleh Bukaka Group, tengah menghadapi protes dari masyarakat setempat, Rabu, (21/8/2024).
Mega proyek senilai lebih 13 triliun rupiah itu yang dikerjakan PT. KMH (Kerinci Merangin Hidro) di demo ratusan warga Desa Pulau Pandan, Kecamatan Bukit Kerman, Kabupaten Kerinci, Jambi.
Titik demonstrasi berada dekat jembatan menuju Desa Tanjung Batu, Kecamatan Keliling Danau. Para pengunjuk rasa menuntut perhatian terhadap masalah-masalah yang mereka anggap penting terkait proyek tersebut.
Menurut informasi yang diterima, masyarakat Desa Pulau Pandan, Kecamatan Bukit Kerman, yang sebagian besar terdiri dari ibu-ibu, menggelar aksi protes di lokasi proyek PLTA.
Mereka menduduki area proyek sambil menyampaikan orasi keras, menuntut agar pengerjaan pengerukan sungai dihentikan. Tuntutan utama mereka adalah penyelesaian ganti rugi dan kompensasi atas lahan yang telah digunakan untuk proyek tersebut.
Aksi ini menunjukkan ketidakpuasan warga terhadap proses kompensasi yang dianggap belum memadai.
Masyarakat setempat telah menghentikan aktivitas proyek PLTA di pintu air sebagai bentuk protes, mengingat proses ganti rugi lahan belum diselesaikan oleh pihak pengelola proyek.
“Kami terpaksa menghentikan semua kegiatan di lokasi karena kompensasi untuk lahan yang telah digunakan belum diselesaikan,” ujar salah seorang warga dengan tegas.
Dia menambahkan bahwa jika masalah kompensasi tidak segera diatasi, masyarakat akan terus menduduki area proyek PLTA hingga tuntutan mereka dipenuhi. Protes ini mencerminkan ketidakpuasan warga terhadap penanganan kompensasi dan menggambarkan keteguhan dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
Ketegangan meningkat di dusun setempat setelah sirene berbunyi sebagai tanda protes masyarakat terhadap pengerjaan proyek PLTA yang tengah melakukan pengerukan sungai.
“Kami tidak akan membiarkan pengerjaan dilanjutkan sebelum ganti rugi lahan kami diselesaikan,” tegas salah seorang warga, menekankan ketidakpuasan mereka terhadap penanganan kompensasi.
Camat Bukit Kerman, Pardinal ketika dihubungi mengakui adanya unjuk rasa tersebut. Namun, dia hanya memberikan jawaban singkat melalui pesan WhatsApp, “Ya, sekarang saya sedang ada acara.”
Di sisi lain, Humas PLTA PT Kerinci Merangin Hidro Aslori, dengan tegas membantah tuduhan warga mengenai masalah ganti rugi tanah. “Itu tidak benar,” kata Aslori dengan singkat, menolak klaim yang diajukan oleh masyarakat. (al)






