Ia berharap program ini dapat terus berlanjut di masa mendatang. Sejak tahun 2022, Pemkab Kotim telah memprogramkan insentif bagi guru ngaji non-ASN, yang hingga kini penerimanya mencapai 1.000 orang.
“Namun sejak saya programkan insentif, saya tidak tahu siapa saja penerimanya, makanya kami mengadakan silaturahim hari ini dengan guru ngaji dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang berjumlah 270 orang,” jelas Halikinnor.
Dalam acara tersebut, Halikinnor menegaskan komitmennya untuk mendengar dan memahami aspirasi serta kendala yang dihadapi guru ngaji non-ASN.
Pemerintah daerah siap membantu jika ada kekurangan Al-Quran atau buku-buku tuntunan agama. Selain itu, bagi guru ngaji yang rumahnya sudah tidak layak, pemerintah akan mengupayakan program bedah rumah.
“Ini adalah bentuk perhatian kami kepada guru ngaji, yang memiliki peran penting dalam pembangunan mental dan spiritual masyarakat, terutama anak-anak,” ujar Halikinnor.
Ia menambahkan bahwa berkat para guru ngaji, generasi muda Kotim dapat mengenal dan memahami Al-Quran, sehingga dapat terhindar dari hal-hal negatif seperti penyalahgunaan narkoba, terutama di tengah kondisi Kotim yang masuk zona hitam peredaran narkoba.
Meskipun memiliki peran besar, tingkat kesejahteraan guru ngaji sering kali tidak sebanding. Banyak orang tua murid yang lalai membayar iuran, meskipun jumlahnya kecil dan berdasarkan keikhlasan. Untuk itu, sejak 2022, Pemkab Kotim memberikan insentif sebesar Rp1,8 juta per orang per tahun bagi guru ngaji non-ASN.
Halikinnor juga berjanji untuk meningkatkan nominal insentif ini pada tahun-tahun mendatang sesuai dengan kemampuan anggaran daerah. “Kami berharap dengan adanya insentif ini dapat membantu perekonomian para guru ngaji,” pungkas Halikinnor.(audy)






