Menurut perhitungan awal, jika jembatan dibangun ulang menggunakan konstruksi beton, anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp12 miliar.
Namun, karena keterbatasan anggaran, perbaikan sementara akan dilakukan menggunakan material kayu ulin.
“Kami perlu mempertimbangkan apakah tetap menggunakan kayu ulin atau beralih ke konstruksi beton. Jika ditunda, anggaran bisa meningkat mengikuti kenaikan harga material,” jelas Halikinnor.
Kayu ulin kini sulit didapatkan di Kotim, selain karena kelangkaan, ada aturan ketat terkait jual beli kayu khas Kalimantan yang dikenal sebagai kayu besi tersebut. Halikinnor menegaskan perlunya koordinasi dengan pihak berwajib untuk menghindari pelanggaran hukum.
Halikinnor juga meminta masyarakat bersabar selama proses perbaikan berlangsung dan menghimbau pengendara, terutama kendaraan berat, untuk mencari alternatif jalan lain guna menghindari risiko jembatan patah.
Camat MHS, Syahrial, menambahkan bahwa meski ada beberapa alternatif jalan, Jembatan Sapihan tetap menjadi akses terdekat dan paling vital menuju Pasar Samuda dari Desa Basirih Hilir. “Keberadaan Jembatan Sapihan sangat penting, karena selain terdekat, juga merupakan jembatan terpanjang di Samuda Kota,” ungkapnya.
Syahrial bersyukur dengan perhatian pemerintah daerah terhadap jembatan ini, yang sudah lebih dari 20 tahun tidak diperbaiki. Selain Jembatan Sapihan, beberapa fasilitas umum lainnya di Kecamatan MHS juga mendapat perhatian, seperti peningkatan Jalan Partoe Muksin, renovasi tribun, pengurukan lapangan sepak bola, hingga perbaikan penerangan jalan umum. (audy)






