Sampit, fajarharapan.id – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tengah menghadapi tantangan dalam infrastruktur kesehatan. Dari total 168 desa, hanya 148 puskesmas pembantu (pustu) yang masih beroperasi, sementara beberapa mengalami kerusakan.
Kepala Dinas Kesehatan, Umar Kaderi, mengonfirmasi rencana untuk mengusulkan pembangunan 28 pustu baru. Ini sebagian dari upaya integrasi layanan primer yang didorong oleh Kementerian Kesehatan, sebagai langkah menuju masyarakat yang lebih sehat dan mandiri.
Pembangunan pustu ini disusun melalui dana alokasi khusus (DAK) dari pemerintah pusat, diharapkan untuk mengatasi kekurangan infrastruktur kesehatan di wilayah tersebut. “Paling lambat tahun 2027, setiap desa di Kotim harus memiliki pustu,” kata Umar, Selasa 14 Mei 2024.
Rencananya, pembangunan akan dimulai pada tahun 2025 hingga 2027, dengan setiap pustu dilengkapi oleh satu perawat, satu bidan, dan dua kader kesehatan.
Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk memperkuat peran pustu dan posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Sementara puskesmas akan kembali fokus pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
Umar menambahkan bahwa pembangunan ini merupakan kesempatan langka, sebab sebelumnya pembangunan pustu tidak pernah melalui DAK.
Program ini memiliki tiga sasaran utama, yaitu penerapan siklus hidup sebagai fokus integrasi pelayanan kesehatan, memperkuat layanan di tingkat desa dan dusun, serta meningkatkan pemantauan wilayah melalui digitalisasi dan dashboard situasi kesehatan.
“Melalui skrining, kita bisa mendeteksi penyakit dan memberikan advokasi untuk pengobatan lanjutan,” jelas Umar.
Dengan upaya ini, diharapkan infrastruktur kesehatan di Kotim akan meningkat, mendekatkan layanan kesehatan ke masyarakat, dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat. (audy)






