Berjalan di atas batu andesit menjadi sebuah pengalaman yang menegangkan. Kesempurnaan seakan hanya menjadi ilusi ketika dihadapkan pada tembok yang tampak kokoh namun rapuh. Rasakan sensasi petualangan yang menguak misteri tersembunyi di balik lapisan batu yang menawan, di sela-sela gelombang batu andesit yang menantang.
Menghadirkan warna tak bermakna di Kota Sungai Penuh, gebrakan baru dalam upaya mempercantik wilayahnya, terutama di sekitar gedung nasional. Tugu 17 kini menyala dengan warna merah yang menarik perhatian, sementara jalan di sekitarnya telah diperindah dengan lapisan batu andesit sepanjang 100 meter.
Namun, perhatian masyarakat tertuju pada kondisi jalan yang baru saja diperbaiki dan masih dalam tahap perawatan. Meskipun sudah dianggap sebagai salah satu “objek wisata” lokal, kualitas jalannya masih menjadi sorotan karena kerataannya yang jauh dari standar, mirip dengan jalan yang diguncang oleh gempa hebat.
Meski pihak pemborong telah berupaya memperbaiki jalan yang bergelombang dengan melepas dan memasang kembali batu andesit, namun hasilnya masih jauh dari memuaskan. Kondisi jalan bahkan menjadi lebih buruk, dengan goncangan yang amat keras bila melaju di atas 30 KM/jam. Bagaimana solusinya? Nampaknya, berkendara harus dilakukan dengan kecepatan sangat rendah, di bawah 10 KM/jam, untuk menghindari goncangan yang tidak nyaman.
Perubahan itu seharusnya menjadi sumber kebanggaan, namun terkadang janji-janji hanya menjadi debu di angin. Suara lantang tak selalu diiringi oleh tindakan nyata, dan pendirian sering kali rapuh dihadapan godaan keuntungan. Ironisnya, kritik tajam sering kali terlontar saat berada di sisi seberang, tanpa melihat kekurangan di dalam lingkaran sendiri. Kini, sebuah tembok kokoh telah dibangun hingga level provinsi sama persis dengan pendahulu yang cahayanya tidak seterang ketika awal membangun tembok.
Meski tampak kokoh, tembok itu ternyata menyimpan rahasia yang rapuh, seperti mengisyaratkan adanya misteri di balik lapisan batuannya yang kokoh. Meskipun dilapisi dengan warna merah mencolok, esensi kelemahan tembok tersebut menjadi semakin mencolok. Berbicara tentang “gempa bumi dahsyat,” pemasangan batu andesit yang seharusnya kokoh dan rapi, malah terpasang secara sembarangan, seolah mengajak siapa pun untuk mengungkap atau menghadapi tantangannya. Meski demikian, tembok tetap menunjukkan kekokohannya, membuktikan keberadaan cadangan alam yang tak pernah terkikis bahkan hingga tujuh turunan ke depan—selama tembok masih berdiri. Namun, ketika ia roboh, kekayaan di dalamnya akan lenyap dan tersingkirkan.
Meski terlihat tangguh, tembok itu sebenarnya rapuh, walaupun ada tembok lain yang lebih tinggi di baliknya yang melindungi dari terpaan badai, pertanyaannya, apakah mampu tembok tinggi itu bertahan melindungi jika tak kokoh lagi. Tembok itu meskipun dicat dengan warna merah yang gagah, sejatinya tembok itu lemah. Kembali kecerita “gempa bumi dahsyat,” pemasangan batu andesit seharusnya merata dan kuat, namun justru terpasang secara sembarangan, seolah menantang siapapun yang berusaha menembus atau bermaksud membelenggunya, tembok itu tetap kokoh berdiri buktinya dalam lingkaran tembok terdapat cadangan kekayaan alam yang tak pernah habis sampai tujuh turunan itupun kalau tembok masih kokoh berdiri, kalau roboh hilang pula kekayaan di dalamnya dan siap-siap dikuburkan dalam-dalam.
Wakil rakyat mulai bergerak, meskipun gerakan mereka dianggap lamban oleh masyarakat, tapi asal tidak lembek saja karena seiring akan berakhirnya masa kekuasaan dan kekuatan yang mereka miliki. Mulyadi Yakub Ketua Komisi III DPRD Sungai Penuh mengatakan, bahwa pemasangan Batu Andesit dalam kondisi rusak parah.
Pembangunan jalan tersebut telah menguras anggaran daerah tahun 2023 hampir satu miliar rupiah, terlihat seperti pekerjaan yang kurang perhitungan seolah tidak menghargai kewenangan dari para wakil rakyat yang telah menyetujui anggaran sebesar itu. Ini mengingatkan kita akan pentingnya perencanaan, karena pekerjaan tanpa perencanaan yang matang cenderung menghasilkan dampak buruk.
Apakah kita harus menghargai usaha mereka dalam membangun, meskipun hasilnya tidak sesuai harapan? Jika melalui kerja keras serta serius pasti dapat mencapai kualitas terbaik, mungkin layak untuk memberikan penghargaan. Namun, ada cerita lain lebih menarik lagi dari batu andesit, karena ratusan jiwa terancam akan terkubur hidup-hidup jika terjadi longsor. Bukit Sentiong tersebut telah menjadi legenda karena merupakan tempat pertemuan sejarah antara warga Tionghoa keturunan dan masyarakat lokal. Kuburan keluarga mereka masih ada di sana, tetapi pembukaan jalan baru telah menimbulkan masalah baru bagi warga di bawah kaki bukit. Keputusan untuk melanjutkan atau menentukan arah baru sepenuhnya tergantung pada masyarakat itu sendiri. (Mardizal Sumara)






