Solsel  

Minat Baca Masyarakat Solsel Kurang

Aktivitas mencari tugas di warnet di Solsel


Solsel, fajarharapan.id — Minat baca masyarakat di Kabupaten Solok Selatan masih rendah, apalagi pada bulan ramadhan  1445 Hijriyah/2024 masehi. Walaupun mereka tau ilmu itu sangat penting, tapi mereka lebih cenderung dengan media sosial (medsos) dengan kesehariannya dibandingkan dengan membaca buku. Baik di rumah, maupun di Dinas Perpustakaan Kabupaten Solok Selatan.

“Banyak mengerti bahwa ilmu penting, tapi kalah dengan sosial media yang disajikan saat ini. Tiktok, Facebook, Instagram dan lainnya. Hingga buku, hilang dalam pemikiran masyarakat, pelajar dan mahasiswa,” ujar Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Solok Selatan Defrianti

Hingga buku terabaikan dan yang menjadi pilihan utama semua orang adalah media sosial. Lihat saja di contohkan Defrianti, anak-anak, dewasa dan orang lebih tua, banyak terlihat sibuk dengan aktivitas media sosial.

Baik postingan dalam bentuk foto maupun vidio. Kadang-kadang melebihi kewajaran yang diciptakan dalam media sosial itu.

“Dampak besarnya. Anak-anak malas belajar di rumah. Ketika ujian, mereka sibuk dengan buku sekolahnya,” tutur Defrianti.

Nah, untuk datang ke Perpustakaan Kabupaten, siswa atau mahasiswa ketika membutuhkan buku dan ada tugas dari sekolah seperti contoh membuat karya ilmiah, baru siswa atau mahasiswa berkunjung ke perpustakaan.

Jika tidak, buku bacaan hanya terlihat terpajang saja. Nah, kalau Masyarakat biasa ada datang. Tapi bisa dihitung jari, seorang membaca ini tak penting.

“Kita perhatikan dan ketika kita tanya siswa atau mahasiswa yang datang ke perpustakaan kabupaten. Mereka datang ketika ada tugas sekolah atau kuliah, baru mereka berbondong-bondong datang membaca dan meminjam buku,” paparnya.

Apalagi di bulan ramadhan, ada yang datang tapi itu bisa dihitung dengan jari. Yang kutu buku dari 100 orang, barangkali hanya 2-4 orang. Selebihnya cuek dengan buku.

Perhatikan saja ketika anak-anak di rumah, bisa disurvei ke setiap rumah yang memiliki pelajar. Pasti mereka lebih mau atau suka membaca ketika akan ujian saja.

“Ini bukti minat baca dari masyarakat rendah,” paparnya.

Jika program perusahaan keliling nagari diterapkan, anggaran perpustakaan keliling belum bisa terakomodir dianggaran daerah, sehingga tidak bisa bergerak.

Namun pihak perpustakaan Kabupaten hanya fokus pada momen-momen agenda pimpinan seperti car free day dan disaat penyaluran bantuan, baru disitu perpustakaan memperkenalkan pelayanan membaca ke masyarakat.

“Untuk datang berkunjung ke nagari-nagari sangat sulit terlaksana, karena tidak ada anggaran. Sebab, anggaran banyak tersedot untuk Pemilu dan menyongsong Pilkada di 2024 ini,” imbuhnya. (man)