Gaza– Hamas menepis tudingan pemerkosaan yang dituduhkan oleh Israel terhadap anggotanya. Kelompok Palestina ini menyebut klaim tersebut sebagai “upaya putus asa” untuk memutarbalikkan perlakuan kemanusiaan mereka terhadap sandera Israel.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Anadolu, Hamas menyatakan, “Kami menolak kebohongan Israel mengenai pemerkosaan, yang bertujuan untuk memutarbalikkan perlawanan dan mencemarkan perlakuan manusiawi dan moral kami terhadap tawanan.”
Pernyataan tersebut muncul sebagai respons terhadap tuduhan Israel terhadap anggota Hamas atas pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap warga Israel dalam serangan pada 7 Oktober.
Hamas telah membebaskan 110 sandera yang ditahan selama serangan tersebut, termasuk 86 warga Israel dan 24 warga asing, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pada Jumat, 24 November. Meskipun demikian, Hamas diyakini masih menahan hampir 136 sandera lainnya, seiring berakhirnya gencatan senjata di Gaza pekan lalu.
Dalam rekaman yang dirilis oleh kelompok Palestina, terlihat beberapa sandera memberikan penghormatan kepada pejuang Hamas saat mereka dibebaskan dari penawanan.
Hamas mengajak semua media “untuk tetap waspada agar tidak terjebak dalam kebohongan Israel dan propaganda tendensiusnya, serta untuk memverifikasi setiap informasi, guna melindungi kebenaran dan menjaga kesucian pesan media.”
Israel melanjutkan serangan militer di Jalur Gaza pada Jumat, 1 Desember 2023, setelah berakhirnya jeda kemanusiaan selama seminggu dengan Hamas. Jumlah korban Palestina akibat serangan udara dan darat yang berkelanjutan sejak 7 Oktober mencapai setidaknya 15.899 tewas dan lebih dari 42.000 terluka, sebagai akibat dari serangan lintas perbatasan yang dilancarkan oleh Hamas.(des)






