Malang – Warga Desa Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan yang sangat mengerikan. Peristiwa tragis ini terjadi pada malam Rabu (18/10) di Jalan Keramat RT 17 RW 1 Desa Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Kepala Desa Ganjaran, Ali Shodikin, mengungkapkan bahwa pembunuhan ini melibatkan dua tetangga yang telah lama terlibat dalam konflik. Pelaku, Samidi, diduga membunuh tetangganya, Kusairi, karena dendam yang bermula dari tuduhan bahwa Kusairi telah menggunakan ilmu santet untuk menyantet istrinya hingga menyebabkan kematian delapan tahun yang lalu.
“Sang pelaku telah melanjutkan hidup dengan istri barunya dalam upaya untuk melupakan masa lalu. Namun, tampaknya, pelaku tidak mampu melupakan peristiwa tersebut, seperti yang ia akui pada malam itu,” ujar Ali Shodikin ketika dihubungi oleh Okezone pada Kamis (19/10/2023).
Dengan dendam yang telah berlangsung cukup lama, Samidi (55) mengintai Kusairi (60) saat Kusairi pulang ke rumahnya di Jalan Keramat RT 17 RW 1. Samidi telah menyiapkan dua celurit, di mana satu di antaranya diklaim tak bisa melukai korban.
“Untuk pembunuhan, pelaku mengaku menggunakan kedua celurit, di mana satu di antaranya tidak mempan, mungkin karena faktor ilmu tertentu. Setelah melakukan beberapa kali serangan dengan kedua senjata tersebut, korban akhirnya berlari ke arah keluarganya karena ada hajatan di sekitar sana. Lalu, pelaku mengambil celurit yang lebih tajam dan melanjutkan serangannya,” jelasnya.
Samidi kemudian dengan brutal membacok Kusairi menggunakan kedua celurit yang dibawanya. Akibat serangan tersebut, Kusairi terluka parah di dekat rumahnya.
“Setelah melakukan perbuatan tersebut selama sekitar 20 menit, pelaku pergi ke rumah dan kemudian saya amankan bersama dengan bantuan Polsek, yang kemudian mengambil alih kasus ini,” tambah Ali.
Saat diinterogasi oleh pihak yang berwenang, Samidi mengungkapkan bahwa Kusairi seringkali menyebar garam di sekitar rumahnya, yang diduga merupakan bagian dari praktik santet yang dialamatkan kepada istrinya.
“Korban seringkali melakukan ritual nyawur uyah (menebar garam) di depan rumah pelaku, dan konon, setelah itu, seseorang yang berada di samping rumah pelaku akan mengalami nasib yang tragis. Ini adalah hal yang sering terjadi,” jelasnya.
Dari pengakuan Samidi, setelah Kusairi melakukan ritual menebar garam tersebut, istri Samidi langsung jatuh sakit dan tidak lama setelah itu, meninggal dunia.
“Setelah dia menyebarkan garam seperti itu, istri pelaku disebut segera mengalami penyakit serius. Namun, menurut pelaku, ia tidak dapat memindahkan istri barunya karena tidak ingin menjalani hubungan tetangga yang tidak menyenangkan,” pungkas Ali Shodikin.(dj)






