Agam  

Kemenhaj Sumbar, Perjalanan Haji Sesungguhnya Dimulai Setelah Pulang ke Tanah Air

Bupati Agam bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah.
Bupati Agam bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah.

Lubuk Basung – Selesainya rangkaian penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi bukan menjadi akhir dari pembinaan bagi para jemaah.

Setelah kembali ke Indonesia, para haji dan hajah justru diharapkan mampu menjaga kemabruran ibadahnya serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sumatera Barat, M. Rifki, saat menghadiri acara Tasyakuran Haji dan peletakan batu pertama pembangunan Musala Kemenhaj Kabupaten Agam di Kantor Kemenhaj Agam, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan itu turut dihadiri Bupati Agam Beni Warlis, Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Agam Zulkarnaini Batubara, Kepala Kantor Kemenhaj Bukittinggi, jajaran Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), serta ratusan jemaah haji asal Kabupaten Agam yang menunaikan ibadah haji pada musim 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Agam secara resmi mengukuhkan para jemaah haji tahun 2026 sebagai anggota IPHI Kabupaten Agam. Pengukuhan ini menjadi awal pembinaan pascahaji agar nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama di Tanah Suci tetap terjaga dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

M. Rifki menjelaskan bahwa operasional penyelenggaraan haji secara nasional telah ditutup sejak 1 Juli 2026. Namun, menurutnya, perjalanan sesungguhnya bagi seorang haji baru dimulai ketika kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Ia mengatakan, seluruh jemaah yang telah pulang kini menjadi bagian dari keluarga besar Kementerian Haji dan Umrah sehingga proses pembinaan tidak berhenti setelah ibadah haji selesai.

Rifki juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Agam yang dinilai konsisten membina para alumni haji melalui organisasi IPHI. Sejak 2019, IPHI Agam disebut aktif menjadi wadah silaturahmi sekaligus sarana pembinaan berkelanjutan bagi para jemaah.

Menurutnya, Kemenhaj terus mendorong berbagai program pascahaji sebagai bagian dari upaya mewujudkan Tri Sukses Haji, terutama dalam membangun karakter masyarakat yang berakhlak dan beradab. Karena itu, pembangunan Musala Kemenhaj Agam diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus tempat pembinaan umat.

Ia menambahkan, musala tersebut tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi lokasi pelaksanaan pengajian, majelis taklim, pertemuan para alumni haji, serta berbagai kegiatan keislaman lainnya yang dapat memperkuat semangat menjaga kemabruran.

Rifki juga mengingatkan bahwa haji mabrur harus tercermin melalui perubahan sikap dan perilaku ke arah yang lebih baik setelah kembali dari Tanah Suci. Ia mengibaratkan proses tersebut seperti telepon genggam yang dikembalikan ke pengaturan awal.

Menurutnya, setelah di-reset, perangkat hanya diisi dengan aplikasi yang bermanfaat. Begitu pula seorang haji, nilai-nilai baik yang diperoleh selama beribadah harus terus dipertahankan, sementara kebiasaan yang kurang baik ditinggalkan.

Di akhir sambutannya, Rifki menegaskan bahwa kebahagiaan keluarga bukan hanya karena jemaah kembali dengan selamat, tetapi juga karena mereka pulang membawa perubahan positif yang memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat secara luas.

Ia berharap kemabruran haji tidak berhenti sebagai pengalaman spiritual pribadi, melainkan menjadi sumber inspirasi dan kebaikan yang terus dirasakan oleh umat serta lingkungan sekitarnya.(des*)