Jakarta – Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Kamis, setelah mengalami penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Penguatan ini terjadi seiring dengan melemahnya nilai tukar dolar dan upaya Bank Sentral China dalam mendukung pasar properti dan ekonomi secara keseluruhan.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman bulan Oktober mengalami kenaikan sebesar 0,8% atau 67 sen, dengan penutupan harga mencapai 84,12 dolar AS per barel di bursa London ICE Futures Exchange.
Di sisi lain, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan September mengalami peningkatan sebesar 1,3% atau 1,01 dolar AS, ditutup pada harga 80,93 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami penurunan lebih dari 1,5% dalam sesi perdagangan sebelumnya, terutama karena kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi yang menghantui China dan potensi kenaikan suku bunga oleh Amerika Serikat.
Bank Sentral China telah mengumumkan komitmen untuk menjaga likuiditas yang memadai serta mempertahankan kebijakan yang “tepat dan kuat” guna mendukung pemulihan ekonomi melawan segala hambatan.
“Naeem Aslam dari Zaye Capital Markets mengungkapkan, “Para pedagang minyak menyambut baik langkah China untuk mengamankan aktivitas ekonomi, hal ini tentu memberikan optimisme.”*
Indeks dolar juga turun dari posisi tertinggi dalam dua bulan, tepat sehari setelah risalah rapat Federal Reserve memberi isyarat bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi. Data ekonomi minggu ini juga menunjukkan kekuatan ekonomi Amerika Serikat.
Kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pinjaman, yang pada gilirannya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi serta mengurangi permintaan akan minyak.
Namun, di sisi positif, terdapat tanda-tanda yang mengindikasikan perbaikan. Pada bulan Juli, China melaporkan penurunan stok minyak mentah yang menjadi yang pertama dalam 33 bulan terakhir.
Data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun hampir 6 juta barel pada minggu sebelumnya, yang disebabkan oleh peningkatan ekspor serta peningkatan tingkat produksi.
Di samping itu, stok bensin Amerika Serikat juga turun dan mencapai level terendah dalam lebih dari dua bulan, sesuai dengan data yang dirilis oleh Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA). Sementara itu, pasokan produk minyak lainnya, yang menjadi indikator permintaan, mengalami peningkatan tertinggi sejak Desember.
“Permintaan perjalanan tetap kuat,” kata Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial. Biasanya, permintaan perjalanan cenderung menurun setelah liburan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli.
Para analis percaya bahwa harga minyak kemungkinan akan berada di kisaran 80 dolar AS karena masih ada risiko yang signifikan terhadap prospek ekonomi makro. Edward Moya, analis dari OANDA, menyatakan, “Kemungkinan besar harga minyak akan tetap stabil di sekitar level tersebut.”(BY)






