Lebanon, fajarharapan.id – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan besar yang dilancarkan Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026) menewaskan ratusan orang. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara tegas mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah dicapai.
Serangan yang terjadi hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat itu dinilai telah merusak upaya diplomasi yang sedang berjalan. Pezeshkian menilai, tindakan militer Israel membuat perundingan damai menjadi tidak lagi bermakna.
Dalam pernyataannya, Presiden Iran juga menegaskan dukungan penuh terhadap Lebanon. Ia memastikan bahwa Iran tidak akan tinggal diam dan akan terus berdiri bersama rakyat Lebanon di tengah situasi yang semakin memburuk.
Serangan Israel tersebut dilaporkan menjadi salah satu yang paling besar sejak konflik terbaru pecah beberapa waktu lalu. Sedikitnya 254 orang dilaporkan tewas, sementara lebih dari 1.100 lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran yang terjadi di berbagai wilayah.
Militer Israel mengklaim bahwa operasi tersebut menyasar lebih dari 100 titik yang disebut sebagai pusat komando dan fasilitas militer milik kelompok Hizbullah. Namun, besarnya jumlah korban sipil memicu kecaman dari berbagai pihak internasional.
Perserikatan Bangsa-Bangsa turut menyuarakan keprihatinan atas eskalasi konflik ini. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, menyebut skala kehancuran dan korban jiwa sebagai sesuatu yang mengerikan serta berpotensi mengancam stabilitas kawasan yang sudah rapuh.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah langsung merespons serangan tersebut dengan meluncurkan roket ke wilayah utara Israel pada Kamis (9/4/2026). Serangan balasan itu disebut sebagai bentuk perlawanan atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel.
Hizbullah menegaskan bahwa aksi tersebut bukan yang terakhir dan akan terus berlanjut selama agresi Israel belum dihentikan. Pernyataan ini semakin mempertegas potensi konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
Sementara itu, pemerintah Iran juga mendesak Amerika Serikat untuk bertindak tegas dalam menegakkan kesepakatan gencatan senjata. Iran menilai, isi perjanjian sudah jelas dan tidak boleh ditafsirkan secara sepihak.
Situasi ini menunjukkan bahwa upaya perdamaian di Timur Tengah masih menghadapi tantangan besar, dengan risiko eskalasi konflik yang semakin sulit dikendalikan jika tidak ada langkah konkret dari para pihak terkait.(*)






