Padang  

Dies Natalis ke-53, ITP Tegaskan Peran Nyata untuk Masyarakat

Hendri Nofrianto memberikan orasi ilmiah.
Hendri Nofrianto memberikan orasi ilmiah.

Padang – Memasuki usia ke-53 tahun, Institut Teknologi Padang (ITP) kembali menegaskan eksistensinya tidak hanya sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai institusi yang berperan aktif dalam memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan dalam peringatan Dies Natalis ke-53 yang digelar pada Rabu (8/4/2026). Momentum ini dimanfaatkan sebagai ajang refleksi perjalanan panjang sekaligus pijakan dalam merancang arah pengembangan ke depan.

Rektor ITP, Prof. Maidiawati, menjelaskan bahwa peringatan Dies Natalis bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi capaian yang telah diraih serta menyusun strategi menghadapi tantangan masa depan.

Menurutnya, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk meninjau perjalanan institusi, mensyukuri berbagai pencapaian, dan memperkuat komitmen dalam melangkah lebih maju.

Secara tradisional, Dies Natalis ITP diperingati setiap 21 Februari. Namun pada tahun ini, pelaksanaannya ditunda hingga setelah Ramadan agar suasana kebersamaan dan kekhidmatan lebih terasa.

Perjalanan ITP sendiri bermula dari kursus Ahli Teknik, kemudian berkembang menjadi Akademi Teknik Padang, bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Teknik Padang, hingga akhirnya berstatus sebagai Institut Teknologi Padang. Proses panjang tersebut mencerminkan dedikasi dan komitmen yang terus dijaga hingga kini.

Selama lebih dari lima dekade, ITP telah menghasilkan lulusan yang tersebar di berbagai sektor penting dan turut berkontribusi dalam pembangunan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa ITP tidak hanya mencetak tenaga profesional, tetapi juga berperan dalam kemajuan peradaban.

Saat ini, ITP memiliki dua kampus, dua fakultas, serta sepuluh program studi. Dukungan akademik diperkuat oleh 78 dosen tetap dan 46 tenaga kependidikan yang menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi secara aktif.

Pengembangan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama. Sekitar 5 persen dosen telah meraih gelar profesor, 30 persen bergelar doktor, dan 18 dosen lainnya sedang menempuh pendidikan S3.

Maidiawati menegaskan bahwa peningkatan tersebut merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk masa depan institusi.

Di bidang pendidikan, ITP telah menerapkan sistem Outcome-Based Education (OBE) guna memastikan lulusan memiliki kompetensi yang terukur. Kurikulum juga terus disesuaikan dengan kebutuhan zaman melalui kolaborasi bersama industri, pemerintah, dan alumni.

Dalam aspek penelitian, para dosen ITP aktif memperoleh hibah tingkat nasional serta menghasilkan berbagai inovasi, baik dalam penelitian dasar maupun terapan.

Sementara itu, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, ITP turut memberikan kontribusi langsung dalam menyelesaikan persoalan sosial. Salah satu contohnya terlihat saat bencana banjir di Sumatera Barat, di mana tim “ITP Peduli” turun langsung membantu perbaikan jalan dengan metode sandbag di kawasan Sawah Liek.

Upaya tersebut dinilai sebagai solusi sederhana namun berdampak besar bagi masyarakat setempat.

Kontribusi juga datang dari mahasiswa melalui program “Mahasiswa Berdampak”. Salah satu inovasi yang dihasilkan adalah sistem pengolahan air bersih berbasis aquaponik untuk warga terdampak bencana di Kelurahan Gurun Laweh, Kota Padang.

Selain itu, ITP terus memperluas jejaring kerja sama strategis, baik di dalam maupun luar negeri. Kerja sama tersebut melibatkan berbagai perguruan tinggi di Malaysia, Jepang, dan Kamboja.

Dalam rangka Dies Natalis ini, ITP juga menandatangani nota kesepahaman dengan Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumatera Barat terkait pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta sumber daya manusia di bidang agraria dan tata ruang.

Kerja sama tersebut diharapkan menjadi langkah penting dalam membangun masa depan yang lebih baik.

Ke depan, ITP berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas akademik, memperkuat riset dan inovasi, serta memperluas kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, juga disampaikan orasi ilmiah oleh Dr. Ir. Hendri Nofrianto dengan tema “Dari Bencana Menuju Ketangguhan”. Ia menyoroti masih terbatasnya keterlibatan perguruan tinggi dalam penanganan bencana.

Ia pun mengajak civitas akademika untuk lebih aktif belajar di lapangan, terutama dalam konteks pascabencana, karena banyak pengalaman dan pengetahuan praktis yang tidak diperoleh di dalam kelas.

Pada kesempatan yang sama, ITP juga memberikan penghargaan kepada dosen berprestasi dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi tahun 2026 sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi mereka.(des*)