Semuka Tak Sehamparan: Disrupsi Seni Pertunjukan dari Live (langsung) ke Virtual

Oleh : Prof.Dr.Asril Muchtar, S.S.Kar., M.Hum
Guru Besar Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang & Pemerhati Seni Pertunjukan, Tradisi, dan Ritual

Padang Panjang – Dr.Asril Muchtar, S.S.Kar, M.Hum, Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat di Gedung Pertunjukan Hoeriyah Adam, Rabu (8/42026) momen sakral, dikukuhkan sebagai Guru Besar menyandang gelar akademik Profesor.

Ia adalah putera Desa Sungai Pasak Kota Pariaman itu, menyampaikan Orasi Ilmiah berjudul “Semuka Tak Sehamparan: Disrupsi Seni Pertunjukan dari Live (langsung) ke Virtual” dihadapan jajaran Senat dan Civitas Akademika ISI dipimpin Rektor ISI, Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum.

Ini Rangkuman ‘Orasi Ilmiah’ tersebut;

Pertunjukan seni sejatinya merupakan pertemuan antara seniman dan penonton melalui karya seni. Penonton memperoleh. Pengalaman, emosi, empati, interaksi, meruang bersama, berbagai transformasi realitas sosial / kultural ke realitas panggung / pertunjukan.

Inti yang terpenting bertemu dalam ruang yang sama. Dalam ruangan (indoor) seperti gedung pertunjukan atau di luar ruangan (out door), seperti lapangan terbuka. Transformasi berbagai peristiwa sosial dan budaya diwujudkan ke realitas panggung/pertunjukan oleh seniman.

Seniman perlu menciptakan karya seni sebagai bentuk eksistensinya sebagai seniman. Seniman mempertunjukkan karya seni sendiri atau karya orang lain yang menjadi fokus utama terjadinya peristiwa pertunjukan.

Karya seni menjadi media ekspresi artistik, ide dan konsep yang dijalin dari berbagai bentuk bauran medium serta teknik, yang dikemas dalam balutan estetika. Sebagai media non artistik, karya seni mengandung berbagai pengalaman instrinsik dan eskrinsik, simbolik, pesan, nilai, dan identitas.

Seniman tanpa karya seni, seperti tidak ada menu/makanan yang dihidangkan.

Seniman memerlukan penonton untuk menyaksikan karya mereka. Interdepensi antara seniman, karya seni, dan aundien/penonton sangat kuat. Salah satu di antara unsur tersebut tidak ada, peristiwa pertunjukan tidak terjadi.

Ini adalah pertunjukan yang dilakukan secara langsung (live). Konsep ini telah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama sekali. Sudah ribuan tahun hingga televisi ditemukan.

Akan tetapi, pertunjukan berbagai karya seni saat ini tidak lagi harus meruang bersama antara seniman dan aundiens. Seniman dapat saja melakukan pertunjukan karya-karya mereka, tanpa ada penonton yang menyaksikan secara langsung.

Seniman tidak mesti lagi dipertemukan melalui karya seni dalam ruang dan waktu yang sama. Kemajuan teknologi telah mengubah dan mempermudahan pekerjaan seniman melalui perkembangan teknologi digital.

Teknologi digital merupakan lompatan perkembangan bidang teknologi yang telah banyak membantu memudahkan berbagai pekerjaan manusia di berbagai aspek. Teknologi digital menjadi fondasi utama kehidupan modern yang mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan berkarya.

Perkembangannya sangat cepat dan terus memengaruhi hampir semua aspek kehidupan. Pada bidang seni dan budaya teknologi digital telah banyak dimanfaatkan oleh para seniman tradisi, modern, dan kontemporer, para konten kreator dan youtuber, untuk menyajikan karya-karya seni dan hasil kreasi mereka.

Teknologi digital dimanfaatkan oleh seniman untuk mempertunjukkan karya-karya mereka secara virtual. Karya-karya seni pertunjukan virtual itu disajikan secara live streaming dan streaming.

Semua seniman dari berbagai genre seni pertunjukan telah memanfaatkan teknologi digital untuk pertunjukan karya-karya mereka.

Pertunjukan virtual adalah suatu peristiwa pertunjukan yang dapat ditonton dan dinikmati, tetapi tidak dapat diraba, karena tidak berwujud benda. Para pelaku/pemain yang tampil hanya berupa bayangan atau fatamorgana: tampak tetapi tak terjangkau dan tak teraba.

Menurut Piliang (2004), virtual merupakan realitas maya, sesuatu yang tidak nyata, dalam arti tidak dikonstruksi oleh struktur materi, tubuh, dan partikel, melainkan aktual, dalam arti ditangkap oleh indra.

Virtual menuju ke arah kata sifat. Pertama, virtual (semu bagaikan fatamorgana). Kedua, infective (menjalar seperti virus), floating (mengapung dan berputar secara global bagaikan mengikuti sebuah orbit.

Virtual adalah teknologi yang membuat para penggunanya dapat berkomunikasi dengan orang lain seolah-olah mereka bertemu secara langsung di dunia nyata.

Kegiatan Virtual merupakan sebuah koneksi, hubungan, atau pertemuan di dunia maya (tampak ada, tetapi nyatanya tidak ada) di dalam ruang yang berbeda, berbasis internet tanpa terbatas ruang dan waktu.

Seni pertunjukan virtual adalah seni-seni yang pertunjukannya mengalami suatu proses perantaraan melalui berbagai media. Seperti televisi, film, live streaming, digitalisasi, berbagai flatform media sosial (youtube, instagram, facebook), dan menggunakan internet.

Pertunjukan virtual mengalami perubahan dari sifat dan bentuknya dari pertunjukan langsung (live). Orang-orang dalam komunitas virtual melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan orang dalam kehidupan nyata, akan tetapi tidak membawa tubuh di dalamnya (Rheingold dalam Piliang, 2004).

Teknologi digital pada satu sisi memiliki manfaat yang sangat banyak bagi kemajuan berbagai kreasi dalam berbagai bidang, tak terkecuali bidang seni.

Akan tetapi, ia juga telah menjadi disrupsi bagi seni dan budaya yang telah mapan dalam berbagai konsep pertunjukannya. Konsep pertunjukan meruang bersama, semuka dalam ruang dan waktu yang sama, sudah berlangsung dalam kurun waktu yang alam sekali. Selama sejak peradaban pertunjukan dimulai.

Teknologi digital dengan menggunakan internet, telah menjadi pengganggu (disrupsi) pada tatanan pertunjukan yang mapan itu.

Orang/penonton tidak lagi harus datang ke gedung-gedung pertunjukan, ke ruang-ruang yang disiapkan untuk pertunjukan agar bisa bertemu dengan para seniman melalui karya seni.

Penonton dapat menyaksikan pertunjukan secara virtual dari mana saja mereka berada melalui smart phone, televisi, dan media digital lainnya, sambil duduk, tiduran, dalam kendaraan, sambil makan dan minum, ngobrol dengan kolega, dan sebagai.

Waktu dan biaya untuk menghadiri pertunjukan menjadi lebih murah, tidak terhalang oleh jarak dan juga cuaca. Biaya produksi pertunjukan juga bisa lebih murah. Jika tidak ada waktu menonton secara live streaming, penonton dapat menyaksikan pertunjukan secara streaming.

Para penonton tetap dapat melakukan interaksi dengan senimannya, seperti yang umum dilakukan pada seni-seni pertunjukan tradisi Saluang Dendang di Minang, Lenong di Betawi, dan sebagainya, tetapi bentuknya sudah berbeda pula.

Para penonton dapat saja mengajukan permintaan dendang yang akan dinyanyikan melalui mekanisme interaktif virtual, memberikan saweran dalam bentuk gift atau mentransfer sejumlah uang ke rekening seniman, dsb.

Orang-orang dalam komunitas virtual menggunakan kata-kata pada layar untuk bersenda gurau dan berdebat, terlibat dalam wacana intelektual, melakukan perdagangan, saling tukar pengetahuan, saling membagi dukungan emosional, membuat perencanaan, saling sumbang gagasan, gosip, rayuan, menciptakan karya seni, dan percakapan yang tidak ada asal-usulnya.

Disrupsi teknologi digital pada seni pertunjukan merupakan transformasi struktural yang mencakup dimensi kreatif, produksi, distribusi, dan relasi audiens. Teknologi menjadi medium dan agen perubahan yang membentuk ulang estetika, praktik, dan teknologi seni pertunjukan.

Teknologi digital telah menjadi disrupsi pada seni pertunjukan yang telah mapan dengan berbagai konsep dan bentuknya. Orang tidak lagi dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sama “Semuka Tak Sehamparan.” (AM/mak).