Yota Balad Salurkan Bansos PKH untuk 401 Warga Kurang Mampu Kota Pariaman

Kota Pariaman – Harapan itu datang dalam antrean panjang yang tak bersuara, namun penuh makna. Sebanyak 401 warga kurang mampu di Kota Pariaman, Sumatera Barat akhirnya menggenggam bantuan sosial yang selama ini mereka nantikan.

Di Kantor Pos Indonesia Pariaman, Senin (6/4/2026), bantuan sembako BPNT dan Program Keluarga Harapan (PKH) disalurkan—sebuah momen yang bagi sebagian orang terasa biasa, namun bagi mereka adalah soal bertahan hidup.

Di tengah wajah-wajah lelah yang menyimpan cerita panjang tentang keterbatasan, kehadiran Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menjadi simbol bahwa negara masih mencoba hadir.

Ia menyerahkan bantuan itu secara simbolis melalui PT Pos Indonesia, sebuah jalur distribusi yang kini menjadi saksi harapan masyarakat kecil yang sering kali terpinggirkan.

Namun, di balik seremoni penyaluran bantuan, ada pertanyaan yang menggantung: sampai kapan masyarakat harus bergantung pada bantuan? Program ini memang menyasar mereka yang terdata dalam DTKS, sebuah basis data kesejahteraan sosial yang menjadi rujukan pemerintah.

Tapi realitas di lapangan kerap lebih kompleks dari sekadar angka dan nama. “Gunakan bantuan ini sebaik mungkin,” ujar Yota Balad, dengan nada yang tidak sekadar formalitas.

Ia mendorong agar dana tersebut tidak hanya habis untuk konsumsi sesaat, tetapi juga bisa menjadi pijakan kecil menuju kemandirian. Modal usaha, kebutuhan rumah tangga, hingga pendidikan anak-anak agar tidak terputus di tengah jalan.

Ironisnya, di saat bantuan disalurkan, kebutuhan hidup justru terus merangkak naik. Harga bahan pokok yang fluktuatif membuat nilai bantuan terasa cepat menguap.

Bagi sebagian penerima, bantuan ini hanya cukup untuk bertahan beberapa minggu, sebelum kembali dihadapkan pada kenyataan pahit. Penghasilan yang tak sebanding dengan kebutuhan.

Meski demikian, bagi 401 warga itu, hari tersebut tetap menjadi hari yang berarti. Ada rasa lega, ada senyum tipis yang terselip di antara kekhawatiran.

Mereka tahu, bantuan ini bukan solusi akhir, tetapi setidaknya memberi napas tambahan di tengah tekanan ekonomi yang belum menunjukkan tanda mereda.

Di ujung hari, bansos kembali menegaskan satu hal: negara hadir, tetapi belum sepenuhnya menyelesaikan akar persoalan.

Pertanyaannya kini bukan sekadar berapa banyak bantuan yang disalurkan, melainkan seberapa jauh bantuan itu mampu mengubah nasib dari sekadar bertahan, menjadi benar-benar bangkit.(mak).