Oleh: Prof.Dr.H.Duski Samad, M.Ag
Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat 2025-2030
Padang – Ulama, Ulil Amri, dan Tanggung Jawab Menjaga Arah Umat.
Di antara ayat Al-Qur’an yang paling strategis dalam menjelaskan bangunan peradaban Islam adalah QS At-Taubah ayat 122. Ayat ini tidak sekadar menjelaskan kewajiban belajar agama, namun menjelaskan struktur kepemimpinan umat. Siapa yang menjaga keamanan, siapa yang menjaga ilmu, dan siapa yang menjaga moral.
Allah SWT berfirman “Tidak sepatutnya orang mukmin pergi semuanya (berjihad). Mengapa tidak pergi sebagian dari setiap kelompok untuk memperdalam ilmu agama agar mereka dapat memberi peringatan kepada kaumnya ketika kembali agar mereka dapat menjaga diri.” (QS At-Taubah:122)
Ayat ini sesungguhnya menjelaskan satu prinsip penting. Ulama adalah penjaga arah peradaban. Sebab, dalam konstruksi Islam, ulama bukan hanya figur keagamaan, tetapi ia bagian dari sistem kepemimpinan umat.
Ulama sebagai Bagian dari Ulil Amri.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an An-Nisa ayat 59: “Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu.” Para mufassir klasik seperti Al-Tabari dan Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ulil amri tidak hanya penguasa politik, juga para ulama yang memiliki otoritas keilmuan dan moral.
Dalam Islam, kepemimpinan tidak hanya bersifat administratif, juga bersifat moral dan intelektual.
Penguasa menjaga sistem. Ulama menjaga nilai. Penguasa menjaga stabilitas. Ulama menjaga legitimasi moral stabilitas itu. Sekiranya, ulama kehilangan posisi moralnya, maka kekuasaan mudah kehilangan arah etiknya.
Krisis Besar, Ulama Kehilangan Fungsi Kepemimpinan Moral.
Realitas umat hari ini menunjukkan gejala yang harus kita renungkan secara jujur. Kita tidak kekurangan orang yang bisa bicara agama. Kita tidak kekurangan majelis dakwah. Kita tidak kekurangan simbol religius.
Yang menjadi mulai langka adalah ulama yang mendalam ilmunya,
jernih nuraninya, berani sikapnya, dan merdeka moralnya. Padahal Al-Qur’an telah memberi peringatan keras “Dan janganlah engkau mengikuti orang kafir dan orang munafik, dan jangan engkau hiraukan gangguan mereka.” QS Al-Ahzab:48.
Ayat ini mengajarkan bahwa pemegang otoritas moral tidak boleh tunduk kepada tekanan kepentingan yang merusak nilai. Ini bukan sekadar pesan teologis. Ini prinsip integritas kepemimpinan moral. Ketika ulama mulai takut kehilangan kedekatan dengan kekuasaan, maka yang hilang bukan hanya keberanian ulama, tetapi keberanian masyarakat untuk hidup jujur.
Tafaqquh Fiddin dan Amanah Intelektual.
Surat At-Taubah 122 juga menjelaskan bahwa tafaqquh fiddin bukan sekadar aktivitas akademik, namun amanah sosial. Allah menggunakan kata “liyundziru qawmahum” agar mereka memberi peringatan kepada masyarakat.
Artinya ulama bukan hanya pengajar ilmu, tetapi penjaga kesadaran publik.
Mereka harus mampu menjadi penjernih informasi, penjaga akhlak public, pengingat ketika kekuasaan tergelincir, penyeimbang ketika masyarakat kehilangan arah. Oleh karena itu, ulama tidak boleh hanya nyaman dalam ruang ritual, tetapi harus hadir dalam ruang moral masyarakat.
Bahaya Ulama yang Kehilangan Independensi.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa kekuatan umat selalu bergantung pada kualitas ulama. Sejarah juga menunjukkan bahwa kemunduran umat sering dimulai, ketika ulama kehilangan independensi moralnya.
Imam Malik pernah mengingatkan. “Ilmu akan kehilangan wibawanya jika ia tunduk pada kepentingan dunia”. Ibnu Qayyim juga menjelaskan bahwa kerusakan masyarakat, sering berawal dari rusaknya integritas ulama dan intelektual dia.
Tantangan terbesar ulama hari ini bukan kekurangan panggung dakwah, tetapi menjaga kemurnian niat dan keberanian moral. Ulama bukan legitimasi kekuasaan. Ulama adalah koreksi moral kekuasaan.
Ulama dan Masa Depan Peradaban.
Dalam sosiologi agama, ulama adalah penjaga stabilitas moral masyarakat. Mereka bukan hanya penjaga teks agama, sekaligus penjaga makna kehidupan sosial.
Ketika ulama kuat moral masyarakat kuat. Ketika ulama independent keadilan lebih terjaga. Ketika ulama berani masyarakat memiliki keberanian etis.
Sejarah Minangkabau memberi bukti penting. Surau melahirkan ulama. Ulama melahirkan pemimpin moral. Pemimpin moral melahirkan masyarakat beradab. Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah tidak lahir dari kompromi pragmatis, tetapi dari kedalaman tafaqquh fiddin. Sungguh bahwa investasi terbesar umat bukan hanya pembangunan fisik, tetapi pembangunan kualitas ulama.
Mengembalikan Ulama sebagai Penjaga Nurani Bangsa.
QS At-Taubah 122, QS An-Nisa 59, dan QS Al-Ahzab 48 sebenarnya membentuk satu pesan besar. Ulama adalah bagian dari kepemimpinan umat. Ulama tidak boleh tunduk pada tekanan moral yang salah. Ulama harus menjaga arah masyarakat.
Sesungguhnya bangsa tidak hancur karena kekurangan orang cerdas. Bangsa hancur ketika kehilangan orang yang menjaga kebenaran. Jikalau ulama kuat, umat memiliki kompas. Andaikata ulama berani masyarakat memiliki arah. Dan, bila ulama menjaga integritas, bangsa memiliki masa depan.
So, jihad terbesar ulama hari ini bukan mencari popularitas, tetapi menjaga agar umat tidak kehilangan arah. Sejarah selalu membuktikan peradaban runtuh bukan lemahnya ekonomi, tetapi dipicu runtuhnya moral. Dan moral hanya bisa dijaga oleh ilmu yang disertai keberanian.
Di situlah letak kemuliaan ulama. Pewaris nabi, penjaga nilai dan penuntun arah umat.
Indzār sebagai Jalan Keselamatan Peradaban
Pada akhirnya, pembicaraan tentang indzār bukan sekadar diskusi tentang istilah Al-Qur’an.
Ia adalah pembicaraan tentang masa depan umat. Ia adalah pembicaraan tentang arah peradaban. Ia adalah pembicaraan tentang apakah agama masih mampu menjadi kompas moral kehidupan atau hanya tinggal simbol tanpa daya pengaruh.
Pada sisi lain, sesungguhnya sejarah selalu memberi pelajaran yang sama. Peradaban tidak runtuh ketika bangunan hancur, tetapi runtuh ketika nilai hancur. Bangsa tidak hancur ketika ekonomi melemah, tetapi ketika kejujuran melemah. Umat tidak jatuh ketika kekuatan berkurang, tetapi ketika keberanian moral menghilang.
Di titik inilah indzār menemukan relevansinya. Indzār bukan sekadar peringatan. Ia adalah mekanisme penyelamatan. Ia adalah alarm agar umat tidak terlambat menyadari kesalahan. Ia adalah suara nurani yang mengingatkan bahwa setiap penyimpangan yang dibiarkan akan menjadi kebiasaan, dan setiap kebiasaan yang salah akan menjadi budaya yang merusak.
Sebab, indzār sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang tertinggi ulama kepada umatnya. Mengingatkan bukan karena ingin menyalahkan, tetapi ingin menyelamatkan. Menegur bukan ingin menjatuhkan, tetapi ingin menjaga.
Namun indzār hanya bisa hidup jika ulama memiliki tiga hal. Kedalaman ilmu, kemurnian integritas, dan keberanian moral. Tanpa ilmu, indzār berubah menjadi emosi. Tanpa integritas, indzār berubah menjadi retorika.
Tanpa keberanian, indzār berubah menjadi slogan.
Jadi tantangan terbesar ulama hari ini bukan kekurangan forum dakwah, tetapi menjaga kemurnian keberanian. Bukan kekurangan mimbar, tetapi menjaga independensi moral. Bukan kekurangan pendengar, tetapi menjaga kejujuran nurani.
Jika ulama kehilangan keberanian, umat kehilangan arah. Jika ulama kehilangan independensi, masyarakat kehilangan kepercayaan. Jika ulama kehilangan kedalaman ilmu, agama kehilangan wibawanya.
Dan di sinilah letak tanggung jawab sejarah ulama. Mereka bukan hanya pewaris ilmu nabi. Mereka adalah pewaris tanggung jawab moral kenabian. Mereka bukan hanya penjaga teks agama. Mereka adalah penjaga makna agama dalam kehidupan nyata. Mereka bukan hanya pengajar hukum. Mereka adalah penjaga hati nurani masyarakat.
Sejatinya, ulama harus kembali pada posisi aslinya. Menjadi penjaga arah, bukan sekadar pengisi ruang dakwah. Menjadi pengawal nilai, bukan sekadar komentator moral. Menjadi penuntun umat, bukan sekadar penonton sejarah.
Jika ulama kembali kuat, umat akan memiliki kompas. Jika ulama kembali berani, masyarakat akan memiliki keberanian etis. Jika ulama kembali menjaga integritas, bangsa akan memiliki masa depan yang bermartabat.
Sesungguhnya bangsa tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Tetapi kekurangan orang yang menjaga kebenaran. Dan ulama ditakdirkan Allah bukan hanya menjadi orang berilmu. Ia menjadi penjaga kebenaran itu.
Resolusi terbesar dari gagasan indzār adalah sederhana tetapi berat. Ulama harus kembali berani. Berani menjaga nilai ketika nilai mulai ditawar.
Berani menjaga kebenaran ketika kebenaran mulai dinegosiasi.
Berani menjaga moral ketika moral mulai dipermainkan.
Andaikata ulama diam, sejarah akan berjalan tanpa kompas. Bila ulama diam, generasi akan tumbuh tanpa arah. Jika ulama diam, maka yang bersuara adalah kepentingan. Pun ketika kepentingan menjadi suara paling keras. Kalaupun kebenaran sering menjadi suara paling sunyi. Di situlah indzār menjadi penting.
Ia sebagai suara kebenaran. Sebagai penjaga nurani. Sebagai cahaya di tengah kabut moral zaman. Dan selama masih ada ulama yang berani melakukan indzār, selama itu pula harapan umat akan tetap hidup. Lantas, peradaban selalu diselamatkan oleh mereka yang berani menjaga kebenaran, meskipun tidak selalu disukai zamannya.(DS.30032026).






